Hampir separuh Generasi Z di Indonesia kini akrab dengan kecerdasan buatan (AI). Namun di balik manfaatnya untuk belajar, ancaman plagiarisme hingga ketergantungan digital mulai menjadi sorotan.
SIAPBELAJAR.COM – Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia terus meningkat, terutama di kalangan Generasi Z. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 terhadap 8.700 responden menunjukkan, kelompok usia 14–29 tahun menjadi pengguna AI terbanyak dengan angka mencapai 43,7 persen. Sementara generasi milenial berada di posisi berikutnya dengan 22,3 persen.
Menariknya, pemanfaatan AI kini didominasi untuk kebutuhan pendidikan dan pembelajaran sebesar 43,98 persen, melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya. Teknologi ini dinilai mampu membantu siswa memahami materi, meningkatkan motivasi belajar, hingga meringankan pekerjaan administrasi guru.
Namun di balik manfaat tersebut, penggunaan AI juga menimbulkan kekhawatiran. Risiko ketergantungan, melemahnya kemampuan berpikir kritis, hingga meningkatnya praktik plagiarisme menjadi tantangan serius. Bahkan, interaksi berlebihan dengan chatbot disebut berpotensi memicu ketergantungan emosional dan mengurangi interaksi sosial nyata pada pelajar.
Pemerintah pun mulai bergerak. Tujuh kementerian resmi menerbitkan pedoman pemanfaatan AI di dunia pendidikan pada Maret 2026 guna memastikan teknologi digunakan secara aman, inklusif, dan beretika. Para ahli menegaskan, AI seharusnya menjadi alat bantu pembelajaran, bukan menggantikan peran guru maupun keluarga dalam membentuk karakter anak ***
Tidak ada komentar