Belajar Puisi Jadi Cara Guru Kenali Emosi Siswa, Ini Metode Kreatifnya

waktu baca 3 menit
Minggu, 3 Mei 2026 10:08 0 13 Asop Ahmad

Lewat puisi tentang orang tua, seorang guru SD justru menemukan “isi hati” murid-muridnya—dari sana, pendekatan belajar pun jadi lebih tepat.

SIAPBELAJAR.COM – Pembelajaran puisi ternyata bukan sekadar melatih keterampilan berbahasa, tetapi juga menjadi sarana efektif untuk mengasah kepekaan emosional peserta didik. Melalui aktivitas menulis puisi, guru dapat memahami isi pikiran hingga suasana hati murid secara lebih mendalam.

Hal ini diterapkan Rossi Marinjani, guru kelas 5 SD Negeri Mekarsari 1, Kota Depok, Jawa Barat. Ia memanfaatkan pembelajaran puisi sebagai jembatan untuk mengenali kondisi emosional siswa, salah satunya dengan meminta mereka menulis puisi bertema orang tua.

“Momen anak-anak menulis puisi untuk ayah membuat saya lebih mengenal kondisi mereka,” ujar Rossi melalui pesan WhatsApp, Selasa (28/4/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Puisi Nasional.

Pembuatan Website

Menurut Rossi, dari tulisan sederhana itu, guru dapat menentukan pendekatan yang paling sesuai untuk setiap anak. Ia menilai puisi sebagai media yang tepat dalam pembelajaran sosial emosional. Selain melatih kejujuran, kegiatan membaca puisi di depan kelas juga menumbuhkan keberanian.

“Menuliskan sesuatu tentang orang tua melatih kejujuran, sementara tampil di depan kelas melatih keberanian,” jelasnya.

Rossi meyakini, pembelajaran puisi juga berperan dalam pembentukan karakter. Proses merangkai kata membuat siswa belajar fokus dan tenang. Ia bahkan mengamati salah satu muridnya tetap tekun menyelesaikan puisi tanpa tergesa-gesa, meski teman-temannya sudah selesai lebih dulu.

Dalam praktiknya, Rossi memulai pembelajaran dengan mengenalkan perbedaan antara puisi dan pantun melalui tabel karakteristik. Setelah itu, siswa diajak memahami isi puisi melalui parafrase, sehingga mereka mampu menangkap makna yang ingin disampaikan dengan bahasa yang indah.

Untuk memperkaya pengalaman belajar, Rossi juga menghadirkan kisah para penyair terkenal melalui video, sekaligus memodelkan cara membaca puisi yang baik. Ia menekankan pentingnya ekspresi wajah, intonasi, jeda, serta pelafalan dibandingkan gerakan berlebihan.

Setelah memahami teori, siswa diberi kesempatan untuk berlatih membaca dan menulis puisi. Bahkan, dalam momen tertentu seperti peringatan hari nasional, Rossi menyisipkan latihan menulis puisi tematis.

Pengalaman masa kecilnya yang kerap mengikuti lomba baca puisi turut menginspirasi metode pengajaran yang ia terapkan saat ini. Siswa yang menunjukkan potensi pun didorong untuk mengikuti berbagai lomba, baik di tingkat sekolah maupun luar sekolah.

Keterbatasan koleksi buku puisi di perpustakaan tidak menjadi penghalang. Rossi memanfaatkan buku teks hingga mencetak bahan ajar sendiri. Kehadiran Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah juga semakin memperkaya proses pembelajaran.

Melalui perangkat tersebut, ia dapat menampilkan teks puisi secara visual, lengkap dengan penanda warna untuk menunjukkan intonasi. Video penampilan juara lomba puisi hingga tutorial teknik membaca puisi juga ditayangkan untuk memotivasi siswa agar lebih percaya diri.

“Rasa malu memang jadi salah satu kendala, jadi anak-anak perlu contoh dan motivasi,” ujarnya.

Pendekatan kreatif ini menunjukkan bahwa pembelajaran puisi dapat menjadi ruang aman bagi siswa untuk berekspresi sekaligus membangun karakter dan kepercayaan diri.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
Pembuatan Website
LAINNYA