Tradisi Nyangku Panjalu, Warisan Budaya Abad ke-7 yang Masih Hidup di Ciamis

waktu baca 2 menit
Jumat, 19 Sep 2025 14:33 0 298 Asop Ahmad

CIAMIS, SIAPBELAJAR.COM – Dalam suasana khidmat dan penuh makna, masyarakat Panjalu, Kabupaten Ciamis kembali menggelar Upacara Adat Nyangku, Kamis (18/09/2025), di Lapang Borosngora. Tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman Kerajaan Panjalu ini rutin dilaksanakan setiap bulan Maulid (Rabiul Awal) dan menjadi salah satu warisan budaya tak ternilai.

Nyangku bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan mendalam kepada leluhur sekaligus upaya pelestarian budaya yang diwariskan turun-temurun. Prosesi utamanya adalah pencucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora, raja legendaris Panjalu.

Rangkaian Prosesi Sakral

Acara dimulai dengan kirab pusaka dari Pasucian Bumi Alit menuju Alun-Alun Panjalu. Di sana, pusaka disucikan menggunakan air dari sembilan mata air yang diyakini memiliki kekuatan spiritual, di antaranya dari Gunung Gintung, Gunung Sawal, dan Situ Lengkong. Air ini dipercaya mampu membersihkan kotoran lahiriah maupun batiniah.

Pembuatan Website

Benda-benda pusaka yang dicuci antara lain Pedang Zulfikar, Cis, Keris Komando, Pancaworo, Bangreng, Goong kecil, Kujang, hingga Trisula. Ritual ini dipimpin oleh sesepuh adat dan tokoh agama Islam melalui doa-doa khusus, menandai perpaduan tradisi Hindu kuno dan nilai-nilai Islam yang telah berakar sejak abad ke-7 Masehi.

“Upacara ini adalah bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan kepada sejarah Panjalu. Kami berharap masyarakat semakin bangga dan memiliki kepedulian untuk menjaga budaya daerah yang merupakan bagian dari identitas bangsa,” ungkap Rd. Agus Gusnawan Cakradinata, Pemangku Adat Panjalu.

Sejarah dan Filosofi Nyangku

Nama Nyangku berasal dari kata Arab yanko yang berarti membersihkan. Dalam perjalanan sejarah, tradisi ini mendapat pengaruh kuat dari Islam setelah Raja Sanghyang Borosngora menimba ilmu agama di Mekah. Sejak saat itu, Nyangku menjadi simbol akulturasi budaya yang menyatukan kearifan lokal dengan ajaran Islam.

Daya Tarik Wisata Budaya

Selain nilai spiritual, Nyangku juga menjadi magnet wisata budaya. Setiap tahunnya ribuan warga dan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, memadati Panjalu untuk menyaksikan prosesi unik ini. Kirab pusaka yang diiringi bendera, musik tradisional, serta sesaji menambah semarak suasana.

Kepala Disporabudpar Kabupaten Ciamis, Dian Budiyana, menegaskan bahwa pemerintah daerah serius menjaga tradisi ini.

“Antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa Nyangku bukan hanya ritual adat, tetapi juga ajang mempererat solidaritas sosial sekaligus mendukung pengembangan pariwisata Ciamis,” ujarnya.

Dengan kekayaan nilai sejarah, spiritual, dan sosial, Upacara Adat Nyangku di Panjalu bukan hanya milik masyarakat Ciamis, melainkan juga warisan budaya bangsa yang layak dilestarikan untuk generasi mendatang.

Oleh: Udan Muhdiana

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
Pembuatan Website
LAINNYA