Berawal dari pengalaman hidup penuh keterbatasan, seorang pedagang cireng di Kota Tasikmalaya konsisten menyantuni anak yatim sejak 2017. Pada 10 Muharam 1448 Hijriah, sebanyak 250 anak kembali merasakan kebahagiaan dari aksi berbagi tersebut
SIAPBELAJAR.COM – Semangat berbagi pada momentum 10 Muharam 1448 Hijriah kembali ditunjukkan Ustaz Syarifudin atau yang akrab disapa Ustaz Syarif, warga Kelurahan Ciherang, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya. Melalui kegiatan sosial yang rutin digelar sejak 2017, ia menyalurkan santunan kepada 250 anak yatim.
Kegiatan yang semula hanya menyasar sekitar 20 anak yatim itu kini terus berkembang berkat dukungan para dermawan dan masyarakat yang ikut tergerak untuk berbagi.
Bagi Ustaz Syarif, kepedulian terhadap anak yatim berawal dari pengalaman hidup yang penuh perjuangan. Ia kehilangan ayah sejak usia 11 tahun, pernah tinggal di panti asuhan saat merantau ke Jakarta, hingga merasakan kesulitan ekonomi yang membuatnya beberapa hari tidak dapat makan.
“Pengalaman hidup itu menjadi pengingat bagi saya untuk terus berbagi kepada anak-anak yang membutuhkan. Berbagi tidak harus menunggu kaya, tetapi dimulai dari niat yang tulus,” ujarnya.
Hasil Jualan Cireng
Sepulang dari perantauan, Ustaz Syarif melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al Khoeriyah Ciherang. Setelah berkeluarga, ia mencari nafkah dengan berjualan cireng menggunakan gerobak sederhana.
Dari usaha kecil tersebut, ia menyisihkan sebagian penghasilannya secara rutin untuk membantu anak-anak yatim. Keteladanan itu kemudian menginspirasi pedagang dan warga sekitar untuk ikut berpartisipasi sehingga jumlah penerima santunan terus bertambah setiap tahunnya.
Pada peringatan 10 Muharam tahun ini, ratusan anak yatim menerima santunan, paket makanan, serta mengikuti doa bersama dalam suasana penuh kebersamaan.
Tak Harus Menunggu Kaya
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Diky Candra Negara, mengapresiasi kepedulian yang ditunjukkan Ustaz Syarif. Menurutnya, aksi tersebut membuktikan bahwa berbagi tidak harus dilakukan oleh orang yang memiliki harta melimpah.
“Beliau bukan pejabat, tetapi seorang pedagang cireng yang hidup sederhana. Semoga keteladanannya menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk saling peduli,” kata Diky.
Ia menambahkan bahwa berbagi tidak selalu berbentuk materi. Sikap ramah, senyuman, ucapan yang baik, dan perilaku yang bermanfaat bagi sesama juga merupakan bentuk sedekah yang bernilai.
Menginspirasi
Kepala SMK Al Khoeriyah, Maman, menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap masa depan anak-anak yatim.
Ia berharap gerakan serupa dapat tumbuh di berbagai daerah agar semakin banyak anak yatim dan kaum dhuafa yang memperoleh perhatian.
“Kegiatan ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial mampu memberikan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan. Semoga menjadi inspirasi bagi masyarakat di daerah lain,” ujarnya.
Ustaz Syarif berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berbagi kepada sesama, sehingga kepedulian sosial menjadi budaya yang terus tumbuh di tengah kehidupan masyarakat.
Jurnalis: Udan Muhdiana
Tidak ada komentar