TASIKMALAYA – Setelah mencatat 169 kasus HIV baru tahun 2024, Pemerintah Kota Tasikmalaya memperkuat upaya pencegahan dan akses skrining dini untuk menekan penyebaran virus. Kepala Dinkes Tasikmalaya Asep Hendra menyatakan, “Kami tidak hanya melihat angka, tetapi bagaimana mencegah penularan dan memastikan perawatan sejak dini – skrining adalah kunci awalnya.”
Data KPA Kota Tasikmalaya menunjukkan 65 persen kasus baru berasal dari kelompok rentan, terutama lelaki seks dengan lelaki (LSL). Kasus tersembunyi juga menjadi perhatian karena stigma dan diskriminasi, membuat banyak orang tidak menyadari terinfeksi dan terus menularkan.
Untuk menangani ini, Dinkes meluncurkan program seperti edukasi terarah ke sekolah dan komunitas, distribusi kondom gratis, pendekatan harm reduction untuk pengguna narkoba, tes pre-marital, serta kampanye anti-stigma.
Skrining dini dianggap paling krusial karena memungkinkan deteksi sebelum gejala muncul dan perawatan segera. Di Tasikmalaya, skrining gratis bisa dilakukan di 4 puskesmas ditunjuk dan rumah sakit pemerintah dengan prosedur cepat dan rahasia – ditujukan untuk ibu hamil, penderita TB, pengguna narkoba suntik, calon pengantin, dan mereka dengan riwayat berisiko.
Hasil tes cepat bisa didapat dalam 15-30 menit, dan penderita positif akan mendapatkan obat ARV gratis. Data menunjukkan 85 persen penderita yang patuh minum obat memiliki tingkat virus rendah, sehingga risiko penularan sangat kecil dan harapan hidup sama dengan orang sehat.
Asep menekankan, “Penanggulangan HIV membutuhkan dukungan semua orang – ikut program pencegahan, lakukan skrining jika berisiko, dan berikan dukungan tanpa stigma.”
Jurnalis: Udan Muhdiana
Tidak ada komentar