Bukan sekadar tempat hukuman—Lapas Tasikmalaya jadi ruang pembinaan. Namun, lonjakan penghuni kini jadi tantangan serius yang mendesak solusi.
SIAAPBELAJAR.COM — Peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 di Lapas Kelas IIB Tasikmalaya menegaskan peran lapas sebagai tempat pembinaan, bukan penghukuman. Mengusung tema “Pemasyarakatan Kerja Nyata, Pelayanan Prima”, kegiatan ini menampilkan karya warga binaan, termasuk produk kopi yang telah menembus kerja sama dengan hotel lokal.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, menegaskan bahwa pelatihan keterampilan menjadi kunci agar warga binaan siap mandiri setelah bebas. Bahkan, bantuan usaha seperti gerobak dagang juga diberikan untuk keluarga mereka.
Namun di balik capaian tersebut, persoalan serius muncul. Lapas yang idealnya menampung 88 orang kini dihuni sekitar 460 warga binaan. Kondisi ini dinilai berdampak pada kenyamanan, kelayakan hidup, hingga potensi pelanggaran HAM.
Plh Kepala Lapas, Yadi Suryaman, mengungkapkan pihaknya telah berupaya memindahkan sebagian warga binaan ke lapas lain. Jika tidak segera diatasi, jumlah penghuni dikhawatirkan bisa mencapai 1.000 orang.
Pemerintah Kota Tasikmalaya pun menyatakan siap mendukung solusi, termasuk kemungkinan relokasi atau pembangunan lapas baru yang lebih representatif. Langkah ini dinilai penting agar fungsi pembinaan tetap berjalan optimal dan manusiawi.
Jurnalis: Udan Muhdiana
Tidak ada komentar