SIAPBELAJAR – Di tengah dinamika organisasi guru di Kota Tasikmalaya, nama Yayat mencuat sebagai figur yang tak hanya berpengalaman, tetapi juga memiliki integritas dan dedikasi luar biasa dalam mengabdi pada dunia pendidikan. Sebagai seorang guru senior yang telah lama terlibat aktif dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Yayat dikenal luas sebagai pribadi yang teguh memegang prinsip, rendah hati, dan jauh dari ambisi kekuasaan.
Banyak pihak meyakini bahwa ia memiliki kapasitas lebih dari cukup untuk menduduki posisi Ketua PGRI Kota Tasikmalaya. Legitimasi moral, rekam jejak panjang, serta pengaruh positif yang ia tebarkan selama ini menjadi modal kuat yang tak terbantahkan. Namun, di balik potensi besar tersebut, Yayat justru memilih langkah yang berbeda: menahan diri dari kontestasi terbuka demi menjaga harmoni internal organisasi.
Baginya, PGRI adalah rumah besar guru, yang harus dijaga keutuhannya. Ia tak ingin kompetisi jabatan menciptakan gesekan yang merusak soliditas. Prinsipnya jelas: pemimpin bukan hanya tentang posisi, tetapi tentang kemampuan untuk menyatukan dan mengayomi. Maka tak heran, ia lebih memilih berkontribusi dalam diam—bekerja di balik layar, memastikan roda organisasi terus berjalan tanpa perlu sorotan.
“Pengabdian bukan soal siapa yang tampak di depan, tapi siapa yang benar-benar bekerja untuk kepentingan bersama,” demikian ungkapan yang mencerminkan falsafah hidup Yayat.
Meski demikian, harapan dari berbagai kalangan terus mengalir. Banyak yang menanti momen di mana Yayat bersedia melangkah maju ketika waktu dan dukungan telah selaras. Sosoknya yang adem, bijak, dan mampu merangkul semua golongan dianggap tepat untuk memimpin organisasi yang menaungi ribuan guru ini.
Yayat mengajarkan satu hal penting: bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan tentang niat tulus untuk melayani. Di tengah era yang sering kali mengagungkan ambisi, kehadiran figur seperti Yayat menjadi oase yang menyejukkan—teladan nyata bahwa dedikasi dan integritas adalah nilai-nilai utama dalam membangun masa depan pendidikan Indonesia.
Penulis & Editor: Udhan Muhdiana & Asop Ahmad
Tidak ada komentar