Membangun generasi unggul tidak bisa dibebankan kepada sekolah semata. Keluarga, masyarakat, hingga media memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan masa depan anak-anak Indonesia
SIAPBELAJAR.COM – Mewujudkan Generasi Emas Indonesia membutuhkan kerja sama semua pihak. Tidak hanya sekolah, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan media harus berperan aktif dalam mendukung tumbuh kembang anak sejak usia dini.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, saat menghadiri kegiatan pendidikan di SDIT Al-Hidayah Logam, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (6/6).
Menurut Atip, pendidikan dasar merupakan tahap paling penting dalam membangun fondasi karakter, pengetahuan, dan keterampilan anak. Karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar serta mengembangkan potensi mereka.
“Keberhasilan suatu generasi tidak hanya diukur dari pencapaiannya saat ini, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan generasi yang lebih baik di masa mendatang,” ujarnya.
Atip menegaskan bahwa sekolah dasar perlu menciptakan lingkungan yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, mendorong peserta didik berpikir kritis, serta membantu mereka menemukan makna dari setiap proses pembelajaran yang dijalani.
Selain pencapaian akademik, Atip menilai pembentukan karakter menjadi aspek yang tidak kalah penting dalam pendidikan. Menurutnya, sekolah dan keluarga harus berjalan seiring dalam menanamkan nilai-nilai positif, membangun kemandirian, serta membiasakan anak untuk terus belajar sepanjang hayat.
Untuk memperkuat karakter peserta didik, Kemendikdasmen terus mendorong penerapan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program ini bertujuan membangun perilaku positif melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten di sekolah maupun di rumah.
Atip menjelaskan bahwa karakter tidak terbentuk secara instan. Karakter lahir dari kebiasaan yang dilakukan berulang kali hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Sebagian besar proses pembiasaan berlangsung di lingkungan keluarga. Karena itu, dukungan dan keterlibatan orang tua menjadi faktor penting dalam membentuk karakter anak,” katanya.
Selain penguatan karakter, Kemendikdasmen juga terus mendorong peningkatan kualitas pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Menurut Atip, kualitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menguasai materi yang diajarkan.
Ia menekankan bahwa pemahaman yang kuat terhadap substansi pelajaran harus menjadi prioritas sebelum menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan.
“Guru yang memahami materi secara mendalam akan lebih mudah menghadirkan proses belajar yang relevan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” jelasnya.
Di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat, Atip juga menyoroti pentingnya penguasaan bidang STEM yang mencakup sains, teknologi, rekayasa, dan matematika. Kompetensi tersebut dinilai menjadi bekal utama bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan abad ke-21.
Namun, ia mengingatkan bahwa pembelajaran STEM harus dikemas secara menarik dan menyenangkan agar mampu membangkitkan minat serta kreativitas peserta didik sejak dini.
Kegiatan yang dihadiri siswa, orang tua, guru, dan tenaga kependidikan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, aman, dan berpihak pada kebutuhan anak.
Melalui kolaborasi erat antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan media, Kemendikdasmen berharap transformasi pendidikan dapat berjalan lebih optimal sehingga lahir generasi Indonesia yang berkarakter kuat, kompeten, inovatif, dan siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Tidak ada komentar