Peran Pentas Seni dalam Meningkatkan Kretivitas Siswa Melalui Pembelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 12 Tasikmalaya

waktu baca 4 menit
Rabu, 22 Apr 2026 14:53 0 67 Asop Ahmad

SIAPBELAJAR.COM – Pembelajaran Seni Budaya memiliki peran vital dalam membentuk karakter dan kreativitas siswa. Melalui seni, peserta didik tidak hanya belajar tentang estetika, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis, berani berekspresi, dan menghargai hasil karya orang lain. Hal tersebut disampaikan oleh Salasa Lidy Utami, S.Pd., M.Pd., Guru Seni Budaya SMP Negeri 12 Tasikmalaya yang juga merupakan Mahasiswa Program Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia Bandung.

“Pembelajaran Seni Budaya memiliki peran vital dalam membentuk karakter dan kreativitas siswa. Melalui seni, mereka tidak hanya belajar estetika, tapi juga berpikir kritis, berani berekspresi, dan menghargai karya orang lain,” ungkap Salasa Lidy Utami.

Namun, berdasarkan pengamatannya sejak tahun 2013 hingga kini, pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap seni daerah masih tergolong minim. Kurangnya minat dan wawasan ini menjadi tantangan bagi sekolah untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih aplikatif, interaktif, dan menarik, tidak hanya berbasis teori semata.

Oleh karena itu, SMP Negeri 12 Tasikmalaya mengimplementasikan kegiatan pentas seni sebagai media alternatif strategis dalam proses belajar mengajar mata pelajaran Seni Budaya.

Pembuatan Website

“Kegiatan ini bertujuan membangkitkan minat siswa terhadap seni budaya lokal dan nasional, serta mengembangkan bakat serta kreativitas mereka secara maksimal,” ucapnya.

Tujuan dan Konsep Kegiatan

Studi kasus ini dilakukan dengan beberapa tujuan utama, yaitu mendeskripsikan konsep pentas seni sebagai media pembelajaran, menganalisis implementasinya dalam kurikulum, serta mengidentifikasi dampak positifnya terhadap peningkatan kreativitas dan kepercayaan diri siswa.

Dalam pelaksanaannya, konsep pentas seni dirancang sebagai bagian integral dari pembelajaran dengan landasan sebagai berikut:

1. Kebutuhan Sekolah terhadap Pembelajaran Seni Budaya

“Sekolah harus memprioritaskan soft skills dan apresiasi budaya, bukan hanya nilai akademik,” tegas Salasa Lidy Utami saat ditemui di sekolah pada Rabu (22/04/2026) pagi. Konsep ini menyediakan wadah aktualisasi diri bagi siswa untuk mengekspresikan bakat mereka.

2. Kesesuaian Materi dengan Kurikulum

Materi yang ditampilkan dalam pentas seni diselaraskan sepenuhnya dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan kurikulum yang berlaku. Hal ini memastikan kegiatan tetap bernilai edukatif dan terukur, bukan sekadar hiburan semata.

3. Pengembangan Kreativitas melalui Bahan Ajar

“Bahan ajar harus mendorong siswa berpikir kreatif dengan rasio teori dan praktik 1:1,” jelasnya. Melalui metode ini, siswa dituntut untuk menuangkan ide-ide mereka ke dalam bentuk pertunjukan musik, tari, teater, maupun karya rupa.

4. Pertimbangan Fasilitas

Pelaksanaan kegiatan juga disesuaikan dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang ada di sekolah agar berjalan lancar, efektif, dan efisien tanpa mengorbankan nilai estetika.

5. Inovasi Karya Seni

Pentas seni juga menjadi wadah bagi lahirnya karya-karya seni dengan konsep modern yang relevan dengan perkembangan zaman, namun tetap menjaga nilai-nilai luhur budaya.

Implementasi dan Penilaian

Pentas seni diintegrasikan ke dalam silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) melalui beberapa tahapan.

“Siswa dibimbing menyusun proposal dan memilih tema sesuai materi. Kegiatan dilakukan di luar jam tatap muka atau pada waktu khusus yang telah ditentukan, namun penilaiannya tetap masuk ke dalam komponen nilai harian dan ujian praktik,” ujar Salasa Lidy Utami.

Dalam proses penilaian, guru tidak hanya melihat dari sisi hasil akhir. “Penilaian mencakup proses latihan, kerjasama tim, kedisiplinan, dan orisinalitas ide—bukan hanya melihat penampilan akhirnya saja,” tambahnya.

Dampak Positif dan Kesimpulan

Penerapan metode ini terbukti memberikan peningkatan yang signifikan. “Siswa kini lebih berani tampil di depan umum dan mulai mencintai seni daerah yang dulunya terasa asing bagi mereka,” kata Salasa.

Siswa menjadi lebih aktif, percaya diri, dan memiliki apresiasi yang lebih baik terhadap budaya. Hal ini membuktikan bahwa kreativitas bukan hanya sekadar bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat dilatih melalui metode pembelajaran yang menyenangkan.

“Pentas seni memiliki peran yang sangat strategis untuk meningkatkan kreativitas siswa,” simpul Salasa Lidy Utami.

Studi kasus ini menegaskan bahwa pembelajaran Seni Budaya yang aktif dan menyenangkan dapat mencapai tujuan pendidikan secara lebih optimal. SMP Negeri 12 Tasikmalaya pun berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi serupa, demi mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka budaya dan kaya akan kreativitas.

(Studi kasus ini kiriman dari Salasa Lidy Utami, S.Pd., M.Pd., guru Seni Budaya di SMP Negeri 12 Tasikmalaya, yang juga merupakan mahasiswa Program Pascasarjana Pendidikan Seni di ISBI Bandung)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
Pembuatan Website
LAINNYA