HIRA Rayakan 3 Dekade dengan Strategi Keselamatan, Siap Taklukkan 30 Goa Karst dan 30 Puncak Galunggung 2025

waktu baca 3 menit
Sabtu, 6 Des 2025 17:35 0 172 Asop Ahmad

TASIKMALAYA – Menginjak usia 30 tahun, Perhimpunan Pendaki Gunung Penjelajah Rimba (PPGPR) HIRA memilih cara bermakna untuk memperingatinya: dengan memperkuat pilar keselamatan. Organisasi pecinta alam ini secara resmi meluncurkan fokus strategis pada manajemen risiko, sebagai persiapan menyambut dua ekspedisi besar nan menantang di tahun 2025.

Dukungan penuh dari Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tasikmalaya mengiringi acara bertajuk “Risk Management: Keselamatan di Alam Bebas” yang digelar di Gedung Creative Center Kawasan Wiradadaha, Sabtu (6/12/2025). Acara ini menjadi landasan konseptual untuk dua tantangan ekstrem: Ekspedisi 30 Goa Kawasan Karst Tasikmalaya Selatan dan Ekspedisi 30 Puncak Pegunungan Galunggung 2025.

“Tiga puluh tahun pengabdian HIRA pada dunia pendakian harus diwujudkan dengan langkah yang bertanggung jawab. Fondasi manajemen risiko adalah kunci keberhasilan, terutama untuk target sebesar 30 goa karst dan 30 puncak Galunggung,” tegas Jajang Kartiwa, Dewan Pengurus ke-8 PPGPR HIRA, dalam sambutannya.

Jajang mengungkapkan keprihatinannya terhadap tren olahraga alam bebas yang kerap mengabaikan aspek keselamatan. Banyak pendaki, terutama pemula, yang hanya berfokus pada pencapaian puncak tanpa mempersiapkan ilmu untuk pulang dengan selamat.

Pembuatan Website

“Keselamatan bukanlah opsi, melainkan kewajiban. Ada ilmu dan prosedur yang harus dikuasai, mulai dari teknik berjalan hingga penanganan darurat. Di alam, 80% keberhasilan ditentukan oleh praktik dan kesiapan, sedangkan 20% sisanya adalah teori,” jelas Jajang seraya mengajak pendaki senior untuk berbagi ilmu dan pendaki pemula untuk aktif belajar.

Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Dr. Deddy Mulyana, S.STP., M.Si., menyambut positif komitmen HIRA. “Kami sangat mendukung inisiatif yang menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama. Selain nilai edukasinya yang tinggi, dua ekspedisi ini juga berpotensi besar mempromosikan kekayaan alam Tasikmalaya, khususnya destinasi karst dan pegunungan, sebagai surga wisata petualangan yang aman dan berkelas,” ungkapnya.

Dalam sesi teknis yang dipandu ahli keselamatan alam bebas, dibahas strategi spesifik untuk masing-masing ekspedisi. Menjelajahi labirin 30 goa di kawasan karst selatan Tasikmalaya memerlukan antisipasi terhadap risiko unik seperti amblesan, kehabisan oksigen, hingga tersesat di lorong gelap. Solusinya meliputi penggunaan peralatan navigasi khusus, manajemen logistik yang ketat, dan pelatihan rescue di lingkungan gua.

Sementara itu, penaklukan 30 puncak di bentang Gunung Galunggung akan menghadapi tantangan cuaca ekstrem, medan vulkanik yang terjal, dan kelelahan akumulatif. Persiapan teknis yang ditekankan mencakup pemetaan rinci, sistem komunikasi tim yang handal, serta pemahaman mendalam tentang kondisi geologis kawasan.

Dengan bekal strategi risk management yang matang, HIRA tidak hanya merayakan tiga dekade perjalanannya, tetapi juga menatap masa depan dengan pendakian yang lebih cerdas, aman, dan bertanggung jawab. Dua ekspedisi besar 2025 nantinya diharapkan menjadi tolok ukur baru bagi standar keselamatan aktivitas alam bebas di Indonesia.

Jurnalis: Udan Muhdiana

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
Pembuatan Website
LAINNYA