Bukan di Pedalaman, Sulitnya Mendapatkan Pendidikan Tenyata Dirasakan Sebagian Warga Bandung

waktu baca 4 menit
Senin, 8 Mei 2023 12:39 0 774 Siap Belajar

SIAPBELAJAR.COM – Sulitnya mendapatakan akses pendidikan ternyata tidak hanya dialami saudara kita yang ada di pedalaman Irian Jaya atau daerah-daerah lainnya yang notabenenya nan jauh dari keramaian ibu kota atau kota-kota penyanggahnya.

Sungguh ironis. Ini cerita masyarakat yang kesulitan mendapat akses pendidikan, padahal daerah tersebut sangat dekat dengan ibu kota negeri ini.

Hal ini dirasakan oleh Darwin Sutendi (58) dan sebagian masyarakat di Kabupaten Bandung pada delapan tahun silam. Keterbatasan ekonomi orang tua dan sekolah yang jauh saat itu menjadi alasan banyak anak tidak melanjutkan sekolah.

Melihat kondisi tersebut, Darwin Sutendi (58) merasa terpanggil. Sejak tahun 2015, dia dan istrinya menginisiasi pendirian Madrasah di kampung tersebut. Darwin mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Baitul Ghofur dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Huda.

Pembuatan Website

“Yayasan dan sekolah ini berdiri tahun 2015, saya yang menginisiasi sendiri. Alasannya adalah untuk merangkul anak-anak. Soalnya di sini kebanyakan petani, orang tidak mampu, tapi kalau dikucilkan gak etis, jadi kita digratiskan semuanya,” ujar Darwin (dikutip dari detik 26/1/2023)

Tak seperti sekolah madrasah pada umumnya, kondisi bangunan sekolah yang diinisiasi oleh Darwin cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak, hanya ada dua ruang kelas untuk MI dan MTs.

Dua ruang sekolah itu diisi oleh total 75 murid yang terdiri dari murid MI sebanyak 35 orang dan murid MTs sebanyak 40 orang. Menurut Darwin, rata-rata siswa yang belajar merupakan kelompok kurang mampu yang putus sekolah.

“Memang banyak yang putus sekolah di sini mah. Saya juga ada inisiatif itu dari si ibu (istri), dia juga kan merasakan putus sekolah kaya gimana dari kecil. Nah dia dan saya berpikir anak-anak sekarang mah jangan ada yang putus sekolah. Sudah aja generasi yang dulu aja yang gak sekolah mah, yang generasi sekarang mah kita bikin aja yayasan sekolah di sini,” jelasnya.

Pahit dan manis dirasakan Darwin selama mengelola sekolah tersebut. Termasuk soal biaya operasional sekolah yang tak sedikit. Namun, niat baik Darwin terbalas. Banyak tangan-tangan mulia yang turut membantu Darwin.

“Ada juga kan sebagian patungan dari keluarga, ada donatur dari rekan-rekan Zipur, dari Jakarta juga ada, terus dari yayasan lain ada. Maksudnya gratis itu jadi masyarakat supaya bebannya berkurang, supaya anak-anak sekolah, cukup memikirkan di sekolah aja. Jadi pendidikannya terus berlanjut,” katanya.

Darwin juga beruntung mendapat tenaga pendidikan yang mengerti akan kondisi yayasannya. Di dua madrasah itu, ada total 4 orang guru yang mana dua di antaranya merupakan anak Darwin.

“Masalah upah cuma dapat Rp 300 ribu per triwulan (tiga bulan), jadi satu bulan itu Rp 100 ribu. Tapi itu sifatnya bukan upah, tapi untuk bensin aja,” bebernya.

Alhamdulillah para guru ini ikhlas untuk menjalankan dan membagikan ilmu kepada anak-anak. Supaya regenerasi kita maju, negara ini lebih maju,” ujar dia menambahkan.

Bangunan Sekolah Diperbaiki

Darwin juga mendapat uluran bantuan dari Batalyon Zipur 9/LLB Divisi 1 Kostrad. Kondisi sekolah yang tadinya cukup memprihatinkan, disulap hingga lebih layak digunakan.

Sebelumnya dua ruangan bangunan sekolah tersebut hanya beralaskan tanah. Kemudian dua MCKnya pun terlihat lebih kotor. Seakan sekolah tersebut tidak terurus sama sekali.

“Alhamdulillah setelah adanya rehab sekolah dari Kostrad, dari pihak yayasan mengucapkan banyak terimakasih kepada Panglima Kostrad, Panglima Divisi, Yonzipur 9, yang mana telah membantu kami di sini untuk menunjang pelaksanaan pendidikan bagi masyarakat,” kata Darwin.

Sementara itu, Pasi Intel Yonzipur 9 Kostrad Lettu Czi Satria Andhika mengatakan saat ini program perbaikan sekolah tersebut telah selesai dilaksanakan. Program tersebut adalah bakti sosial di masyarakat.

“Kami mewakili Yonzipur 9 Langlangbuana Divisi Infanteri 1 Kostrad. Program yang sudah kami laksanakan adalah menjalankan program dari Pangkostrad dan petunjuk dari Panglima Divisi Infanteri 1 untuk melaksanakan bakti sosial di daerah latihan Kostrad di Ciwidey,” ucap Satria.

Satria berharap yang telah dilakukan TNI saat ini bisa membantu dan berdampak bagi warga sekitar. Salah satunya adalah adanya sekolah yang sebelumnya kurang layak.

“Khususnya untuk membantu proses pembelajaran di sekolah, dan juga memberi kenyamanan bagi warga beribadah di mushola, serta pipanisasi dan tambungan air yang sudah kami pasang dapat membantu kehidupan sehari-hari warga di sana,” jelas Satria.

Siap Belajar

Media Literasi Nasional

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
Pembuatan Website
LAINNYA