Ketika membaca jadi kebiasaan, bukan kewajiban, murid tak perlu disuruh lagi—mereka akan mencari buku dengan sendirinya.
SIAPBELAJAR.COM – Peringatan Hari Buku Sedunia yang jatuh setiap 23 April menjadi momentum penting untuk kembali menegaskan peran buku dalam dunia pendidikan. Para pendidik, mulai dari guru hingga pustakawan, didorong aktif menanamkan kesadaran akan manfaat membaca kepada peserta didik.
Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) periode 2024–2029, Wien Muldian, menilai budaya membaca tidak cukup hanya diajarkan, tetapi harus ditumbuhkan melalui ekosistem sekolah yang mendukung.
“Jika budaya ini sudah hidup di sekolah, murid tidak perlu lagi disuruh membaca. Mereka akan melakukannya sendiri karena rasa ingin tahu yang tumbuh,” ujar Wien melalui pesan WhatsApp, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, langkah awal yang perlu dilakukan guru adalah memahami terlebih dahulu koleksi buku yang tersedia, baik di perpustakaan maupun platform digital. Setelah itu, guru perlu mengenalkan ragam bacaan tersebut sekaligus membimbing murid dalam mengakses dan memanfaatkannya.
Wien menegaskan bahwa membaca bukan hanya soal mencari informasi atau hiburan. Lebih dari itu, kegiatan membaca mampu membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, serta meningkatkan kualitas hidup seseorang.
“Melalui membaca, murid dapat membangun kapasitas diri dan keterampilan hidup yang lebih baik,” jelasnya.
Namun demikian, ia menilai pemanfaatan buku nonteks pelajaran di sekolah masih belum optimal. Hal ini disebabkan oleh beragamnya inisiatif di tiap sekolah dalam mengembangkan budaya literasi.
Untuk itu, Wien mendorong agar seluruh ekosistem pendidikan, termasuk pemerintah pusat dan daerah, kembali menghidupkan gerakan literasi seperti yang pernah dijalankan sebelumnya. Literasi, menurutnya, tidak hanya menjadi bagian dari kurikulum, tetapi harus hadir dalam kebiasaan sehari-hari.
Salah satu langkah sederhana yang bisa diterapkan adalah membiasakan kegiatan membaca selama 15 menit secara rutin, baik oleh murid maupun guru. Kebiasaan kecil ini diyakini mampu menumbuhkan minat baca secara perlahan namun berkelanjutan.
Lebih jauh, Wien menekankan bahwa literasi memiliki kaitan erat dengan pembentukan karakter. Kemampuan membaca dan memahami informasi harus diiringi dengan nilai-nilai moral yang kuat.
“Orang yang tidak memiliki karakter baik bisa menyalahgunakan pengetahuan. Jadi, literasi harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter,” ujarnya.
Dengan dukungan semua pihak, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuhnya budaya literasi yang membentuk generasi cerdas dan berkarakter.
Tidak ada komentar