Ferdiansyah: “Nyunda” Adalah Jati Diri, Bukan Sekadar Bahasa

waktu baca 2 menit
Selasa, 28 Apr 2026 06:35 0 32 Asop Ahmad

“Nyunda” bukan cuma soal bahasa—ini tentang cara hidup, nilai, dan karakter yang harus dijaga di tengah arus modernisasi.

SIAPBELAJAR.COM — Anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi Golkar, Ferdiansyah, menegaskan bahwa makna “nyunda” tidak boleh dipersempit hanya sebagai kemampuan berbahasa Sunda. Hal itu disampaikannya dalam dialog budaya bertajuk “Jejak Leluhur Tatar Sunda” yang digelar di Tasikmalaya.

Menurutnya, “nyunda” mencerminkan cara hidup masyarakat Sunda secara menyeluruh, mulai dari pola pikir, perilaku, hingga nilai-nilai kehidupan seperti sopan santun, kejujuran, dan tanggung jawab.

“Nyunda bukan sekadar bahasa, tetapi juga menyangkut sikap hidup seperti nyakola, nyantri, serta menjunjung tinggi tata krama,” ujarnya.

Pembuatan Website

Ia juga menyoroti pentingnya Tasikmalaya sebagai pusat perkembangan budaya Sunda di wilayah Priangan Timur. Secara historis, kota ini memiliki peran strategis dalam perjalanan peradaban, yang memperkuat posisinya sebagai salah satu sentrum budaya Sunda.

Ferdiansyah menjelaskan bahwa keberagaman wilayah di Jawa Barat—mulai dari Cirebonan, Priangan, hingga Bogor-Jakarta—menuntut kebijakan yang sensitif terhadap budaya lokal. Ia mengingatkan agar pembangunan ekonomi tidak menggerus nilai-nilai kearifan lokal.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa identitas Sunda bukan hanya dikenal dari keramahan, tetapi juga dari karakter kuat seperti keuletan dan integritas. Tasikmalaya sendiri, dengan julukan Kota Santri dan Kota Resik, dinilai mencerminkan nilai religius, tertib, dan beretika.

Dalam kesempatan itu, Ferdiansyah juga mendorong percepatan penetapan desa adat di Tasikmalaya. Menurutnya, pengakuan resmi terhadap masyarakat adat akan memperkuat perlindungan hak dan budaya mereka di tingkat nasional.

Ia pun mengingatkan pentingnya menghormati budaya lokal dengan mengutip filosofi, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, sebagai dasar hidup berdampingan dalam keberagaman.

Dialog budaya ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk menjaga identitas Sunda agar tetap hidup dan relevan, khususnya bagi generasi muda di tengah derasnya globalisasi.

Jurnalis: Udan Muhdiana

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar Terbaru

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
Pembuatan Website
LAINNYA