Zakat, Penyuci Diri dan Solusi Kesenjangan Sosial

oleh -124 views
Penulis: Husni Aziz M Mubarok, M.Pd. Dosen IAIC dan Aktivis MDS Rijalul Ansor Kabupaten Tasikmalaya

SIAPBELAJAR.COM – Seseorang yang meyakini dengan komitmen tinggi bahwa Allah adalah Tuhan, Muhammad adalah nabi dan Al-Quran adalah penuntun hidup, seharusnya pantang berkata pongah “Ini harta saya, mau saya gunakan untuk apa, mau saya keluarkan atau tidak ya terserah saya”.

Karena sejatinya seorang muslim sepenuhnya meyakini bahwa harta yang tersimpan di lemari, dompet, ATM hingga yang sudah berbentuk rumah, kendaraan dan peralatan lainya adalah titipan dari Allah SWT yang pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari penghakiman agung.

PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Apakah harta yang dititipkan benar-benar digunakan sejalan dengan apa yang telah diatur oleh Allah Sang Maha pemberi titipan atau malah dipergunakan semaunya sendiri sembari tak mengindahkan pagar-pagar yang ditetapkan Allah SWT.

Untuk menguji seberapa komitmen  kesetiaan penghambaan seseorang, Allah memerintahkan agar dari sebagian harta yang telah dititipkan kepada seseorang haruslah dikeluarkan zakatnya dan diberikan kepada orang-orang yang berkebutuhan diberi sebagaimana ditetapkan dalam Al-Quran.

Zakat berarti penyucian atau pembersihan. Berzakat ialah mensucikan hati dari penyakit “bakhil” yang sangat merusak jiwa dalam kehidupan bermasyarakat. Harta yang belum dikeluarkan zakatnya dipandang kotor.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (Q.S. At-Taubah: 103)

Zakat juga diartikan tumbuh dan subur. Pengertian ini menunjukkan indikasi bahwa dengan berzakat, seseorang sedang menyiram hartanya agar tetap subur dan terus bertumbuh dalam keberkahan yang membuahkan sifat kebaikan dalam jiwa.

“Dan apa yang kalian berikan berupa zakat yang kalian maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan pahalanya” (Q.S. Al-Rum: 39).

Harta memiliki magnet yang sangat kuat untuk dicintai dan menjadikan pemiliknya berat untuk melepaskan. Bahaya jika harta sudah mengendap dan berkarat dalam hati seseorang karena akan membuatnya perlahan-lahan atau cepat menuju kebinasaan.

Zakat Atasi Kesenjangan Sosial

Zakat adalah bukti bahwa Islam hadir dan tampil kedepan dalam rangka menyelesaikan masalah kesenjangan sosial karena berbagai faktor yang melatarbelakanginya.

Zakat menunjukan kekuasaan masyarakat atas orang yang mampu. Islam pun mengakui bahwa di dalam roda kehidupan akan selalu ada manusia yang lemah, keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, atau akalnya tidak mampu berjuang meraih rezeki yang memenuhi kebutuhannya.

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-an’am: 165)

Ayat di atas menyimpan filsafat kehidupan yang mendalam. Kita semua rata diberi tanggung jawab sebagai khalifah Allah yang mendapat tugas mengurus bumi.

Akan tetapi  karena nasib yang tidak sama sehingga kesanggupan setiap orang berbeda. Perbedaan menunjukan ujian, sebagai cambuk agar semua orang menyadari status dirinya dan dapat melaksanakan kewajiban yang tersimpan dipundaknya.

Yang bernasib kaya wajib mengeluarkan zakat untuk menggembirakan hati orang-orang fakir dan miskin yang setiap hari berkeluh kesah karena keringatnya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Islam tidak menghendaki perbedaan kesanggupan menjadi pembedaan golongan yang melahirkan pertentangan golongan. Yang kaya hidup mewah semakin menimbun hartanya membuat lupa daratan. Sementara yang miskin hidup terlantar, bergelut dalam lapar, luput perhatian, bahkan sebagian dari mereka memendam dengki dan benci menatap kemewahan di sebrang mata.

Jika pemandangan itu terjadi, itu bukanlah umat kebanggaan Muhammad walau di sekitarnya masjid berdiri megah, adzan berkumandang dengan merdu, dan lantunan surat yasin bergema syahdu.

Rasulullah bersabda. Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang. Sedang tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang yang kenyang) mengetahui. (Al-Hadist)