Usia empat tahun, masa tepat belajar baca dan hitung

oleh -9 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

PAKAR neurosains dari Komunitas Neuronesia Amir Zuhdi mengatakan usia empat tahun ke atas adalah waktu tepat bagi anak untuk belajar baca tulis hitung.
“Di bawah empat tahun akan mempengaruhi perkembangan otak anak,” kata Amir dalam seminar neurosains di Jakarta, Minggu.

Anak berusia empat tahun ke bawah belum tepat untuk belajar baca tulis hitung karena “fasilitas” otak belum sempurna.

banner 728x90

“Yang ada orang tua malah emosi karena anak lamban dalam menangkap informasi,” kata Amir.

Menurut dia, pada usia nol hingga 13 tahun, anak paling tepat diajari mengenali emosi dirinya.

Melatih kontrol diri, kesabaran, kerja sama, empati dan karakter baik lainnya, lebih mudah dilatih dan tertanam kuat dalam otak anak dari pada kegiatan baca tulis hitung.

“Kematangan emosi menjadi fondasi kuat untuk kesuksesan anak pada masa datang,” katanya.

Orang tua sebaiknya memberikan stimulasi rasional, sedangkan aktivitas fisik semakin menyehatkan otak anak.

Anak yang berotak sehat memiliki ketangguhan dalam menghadapi tantangan hidup, cerdas dalam menentukan pilihan dan santun dalam berinteraksi sosial.

Pengasuhan anak yang baik hendaknya berbasis perkembangan otak karena otak anak berkembang bertahap. Pengasuhan yang baik menjadi stimulasi bagi perkembangan otak anak.

Pada otak terdapat sirkuit saraf otak yang mengatur sistem pengasuhan.

Sirkuit tersebut bernama “otak pengasuhan” yang terdiri dari Sistem Limbic, Cortex PreFrontal, Lobus Parietalis, Lobus Temporalis, Lobus Temporalis, Lobus Occipithalis, dam Cerebellum serta Batang Otak.

Masing-masing “otak pengasuhan” itu berkembang secara bertahap dan mengasuh sesuai dengan perkembangan otak anak.

“Anak yang berusia nol sampai 13 tahun, harus diasuh pada pengasuhan emosi. Anak seusia tersebut telah mengenal berbagai jenis emosi seperti marah, sedih, cemas, gembira, dan cinta. ,” jelas dia.

Orang tua, lanjut dia, harus memahami cara dasar penanganan emosi yang muncul pada anak. Jika tidak, ketidakmampuan mengelola emosi akan mengganggu prestasi hidup anak.(antaranews.com)