Upacara Bersama Anak Berkebutuhan Khusus, Mendikbud Tunjukkan ‘Negara Hadir’

Thursday 30 November 2017 , 8:27 AM
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menjadi pembina upacara di Sekolah Luar Biasa (SLB) C khusus Tunagrahita, Yayasan Tri Asih, Jakarta Barat.(kemdikbud.go.id)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menjadi pembina upacara di Sekolah Luar Biasa (SLB) C khusus Tunagrahita, Yayasan Tri Asih, Jakarta Barat.(kemdikbud.go.id)

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menjadi pembina upacara di Sekolah Luar Biasa (SLB) C khusus Tunagrahita, Yayasan Tri Asih, Jakarta Barat. Kehadiran Mendikbud di tengah-tengah siswa dan guru SLB C Tri Asih itu untuk sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus. Mendikbud memperlihatkan bahwa Negara hadir untuk semua kalangan masyarakat.

“Sudah menjadi tanggung jawab pemerintah bahwa Kemendikbud akan meningkatkan perhatiannya kepada anak-anak berkebutuhan khusus,” ujar Mendikbud saat memberikan sambutan dalam upacara bendera dengan Indonesia Raya Tiga Stanza di lapangan SLB C Tria Asih, Jakarta, Senin pagi (27/11/2017).

Mendikbud juga meminta Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus agar lebih memperhatikan kondisi sekolah-sekolah yang memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. “Tidak cukup kalau hanya pemerintah pusat yang menangani sendiri. Karena itu bantuan pemerintah daerah, pihak swasta, masyarakat, dan yayasan pendidikan seperti Tri Asih ini sangat kita hargai, kita dukung,” tutur Mendikbud.

Ia pun mengapresiasi para guru dan tenaga kependidikan yang mengabdikan diri untuk melayani pendidikan anak berkebutuhan khusus. “Terima kasih kepada guru dan pengelola yang telah mencurahkan seluruh perhatian, pengabdian, dan pengorbanan untuk mendidik dan mengantar putra putri yang ada di sini. Tentu saja ini pekerjaan yang tidak mudah. Saya sangat paham. Perlu pengorbanan yang luar biasa,” ujarnya.

Menurut Mendikbud, setiap anak memiliki keistimewaan dan keunikan. “Orang yang lemah di satu titik biasanya memiliki keunggulan di tempat lain,” katanya. Karena itu ia mengimbau para guru dan orang tua untuk bisa menemukan keistimewaan pada diri setiap anak.

“Itulah yang kita usahakan, kita kembangkan, dan kita pupuk agar anak-anak bisa menjadi anak yang mandiri dan mampu mengembangkan potensinya. Kita antarkan mereka sesuai dengan potensinya  agar bisa mandiri, diterima di masyarakat, dan mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya,” tutur Mendikbud.

Dalam kunjungannya ke SLB C Tri Asih, Mendikbud memberikan bantuan berupa buku cerita khusus tunagrahita sebanyak 32 buku. Selain itu Mendikbud juga menyerahkan buku manajemen sekolah aman bencana dalam huruf braille. Bantuan buku tersebut diserahkan Mendikbud secara simbolis kepada siswa yang menjadi petugas upacara. Kemudian melalui Kepala Sekolah SLB C Tri Asih, Mendikbud menyerahkan bantuan berupa alat olahraga.(kemdikbud.go.id)

Comments are closed.