Unswagati Bisa Berperan Lebih Besar Dongkrak IPM Kab. Cirebon

oleh -8 views
Ilustrasi (www.fiduciariacolmena.com)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (www.fiduciariacolmena.com)
Ilustrasi (www.fiduciariacolmena.com)

UNIVERSITAS Swadaya Gunung Jati (Unswagati) meyakinkan diri untuk dapat berperan lebih besar dalam membantu peningkatan Indeks Pembangunan Kabupaten Cirebon jika telah berubah status menjadi perguruan tinggi negeri.

Saat ini saja, sedikitnya enam puluh persen lulusan Unswagati merupakan putra asli daerah Cirebon dan sekitarnya.

Rektor Unswagati Prof Dr Djohan Rochanda Wiradinata menegaskan, keberadaan sebuah PTN hampir selalu mampu mendongkrak berbagai lini pembangunan sebuah daerah atau wilayah.

“Hal yang terpenting adalah adanya kesempatan lebih besar bagi putra darah untuk mengenyam pendidikan tinggi,” katanya seusai Wisuda ke-40 Unswagati di ballroom salah satu hotel berbintang Kabupaten Cirebon, Rabu (13/8/2014).

Bagi wilayah Cirebon, Djohan meyakinkan bahwa jika Unswagati telah berubah status menjadi PTN, maka akan semakin banyak warga yang bisa meneruskan kuliah dengan biaya yang terjangkau.

Dengan begitu, angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi dan rata-rata lama sekolah di wilayah tersebut akan semakin terdongkrak.

Selain itu, keberadaan PTN secara ekonomis juga akan menjadi daya tarik bagi pertumbuhan ekonomi di sekitarnya. Mahasiswa yang datang dari daerah lain, jelas menjadi potensi pasar yang besar bagi berbagai jenis usaha kecil dari mulai kuliner sampai usaha rumah kos. “Ini artinya akan ada peningkatan daya beli bagi warga sekitar kampus,” ujar Djohan.

Kemajuan di bidang ekonomi dan pendidikan sebagai dampak keberadaan kampus negeri, pada akhirnya akan mempercepat akselerasi peningkatan IPM darerah tersebut.

Bagi Unswagati, imbas tersebut tentunya akan dirasakan oleh Kota Cirebon dan Kabupaten CIrebon sebagai daerah yang menjadi lokasi kampus mereka.

Terkait kesiapan perubahan status Unswagati sendiri, Djohan mengatakan, pihak kampus sudah memenuhi semua persyaratan akademis untuk menjadi PTN.

Hingga saat ini kendala yang masih menjadi ganjalan adalah masih kurangnya lahan yang tersedia sebagai syarat pendirian PTN. Dari 30 hektare yang disyaratkan, Unswagati, Pemprov Jawa Barat dan Pemkot Cirebon, baru bisa menyediakan 21 hektare.

Sisa 9 hektare lahan yang masih harus dipenuhi, saat ini tengah diupayakan lewat dua jalur. Seperti rencana awal, Pemprov Jawa Barat melalui Pemkot Cirebon masih terus mencari lahan yang bisa dibebaskan untuk kampus. Namun beberapa permasalahan membuat rencana itu masih belum menemui hasil.

Beruntung, kata Djohan, Pemkab Cirebon saat ini sudah menyatakan kesediaan untuk membantu penyediaan sisa 9 hektare lahan tersebut. Bahkan rekomendasi dari DPRD Kabupaten Cirebon pun sudah dilayangkan ke Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi untuk ditindaklanjuti.

Selanjutnya, tinggal Pemkab Cirebon yang memproses sertifikasi dan mengalihkan hak pengelolaan lahan tersebut ke Dirjen Dikti untuk dijadikan kampus Unswagati.

Djohan menilai, penyediaan lahan oleh Pemkab Cirebon jauh lebih sederhana prosesnya ketimbang pembebasan lahan oleh Pemkot Cirebon dan Pemprov Jawa Barat.

Selain harus menyediakan anggaran, pembebasan lahan jelas memerlukan proses yang panjang untuk mengalihkan kepemilikan dari warga ke pemerintah.

Sementara lahan dari Pemkab Cirebon hanya membutuhkan penghibahan lahan tersebut dari pemerintahd daerah ke pemerintah pusat melalui Dirjen Dikti.

Meskipun demikian, Djohan masih belum berani menargetkan kapan pastinya Unswagati bisa beruah status menjadi PTN. Pasalnya, kampus hanya mempersiapkan persyaratan akademis saja.

Sementara penyediaan lahan menjadi wewenang pemerintah. “Kalau lahannya sudah tersedia, besok pun kami sudah siap menjadi PTN,” katanya.(pikiran-rakyat.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.