UI Beri Jalan Keluar Hadapi Masalah Kecanduan

oleh -4 views
Universitas Indonesia
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

PROGRAM Studi Okupasi Terapi (OT) Vokasi Universitas Indonesia (UI) dan Ikatan Alumni Okupasi Terapi menyelenggarakan seri pelatihan internasional bertajuk The Behavioral Detective: ‘Evidence and Art’ oleh ahli neurobiologis dan terapis okupasi dunia Kim Barthel. Kegiatan ini berbentuk pelatihan dan menampilkan model untuk perawatan.

Berbagai kasus kecanduan, seperti narkoba, minuman keras, seks,gadget, televisi, dan merokok, yang membayang-bayangi perkembangan generasi muda Indonesia mulai memprihatinkan. Sebagai ilustrasi, pada kasus narkoba, berdasarkan data Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, jumlah penggunanya di kalangan remaja selama 2011-2013 mengalami peningkatan.

banner 728x90

Pada 2011, siswa SMA yang menggunakan narkoba tercatat sebanyak 3.187 orang, tahun berikutnya menjadi 3.410 orang, dan awal 2013 tercatat 519 orang. Remaja pengguna yang berusia 12-21 tahun ditaksir 14.000 orang dari jumlah remaja di Indonesia yang sebanyak 70 juta orang.

Sedangkan Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkirakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia pada 2015 mencapai 5,1 juta orang. Angka ini berarti menyamai separuh jumlah penduduk DKI Jakarta yang totalnya mencapai 9.607.787 (Data BPS 2010).

Ketika seseorang memiliki perilaku kecanduan pada hal tertentu, ada peluang hal tersebut diwariskan secara internal (biologis) dan eksternal (social learning theory) dari orangtua mereka. Terkait aspek biologis, Kim Bartel menjelaskan bahwa saat seorang ibu mengonsumsi makanan atau obat, maka zat yang terkandung di dalamnya terbawa ke aliran darah ibu untuk kemudian sampai ke janinnya.

“Janin mulai terbiasa akan zat tersebut karena secara berkala mendapatkannya di dalam perut ibu mereka. Ketika lahir, maka mereka tidak lagi bisa mendapat zat tersebut setelah terpisahnya mereka dari plasenta dan dipotongnya tali pusat,” katanya kepada wartawan, Jumat (2/1/2015).

Kim menjelaskan, sang bayi memiliki kebergantungan atas zat tersebut secara tidak langsung karena telah terbiasa mengonsumsi zat ini saat dalam kandungan. Mereka pun mencari sensasi atau efek dari obat ini di dunia luar kandungan. Ketika sensasi dari zat tersebut tidak lagi dirasakan oleh bayi, maka sistem persarafannya menjadi overstimulated yang menyebabkan gejala penarikan, bergantung dari terakhir bayi terpapar zat ini kemudian proses metabolisme dan pengeluaran zat tersebut dari dalam tubuh.

“Sedangkan terkait gangguan eksternal, perjalanan hidup anak selama pengasuhan akan membentuk perilaku mereka,” jelasnya.

Melalui pelatihan ini, Kim menyatakan peserta akan memiliki pengetahuan dan keterampilan mengeksplorasi intervensi proses neurobiologi dari sensori, melakukan pemeriksaan yang prosedural, dan seni dalam menerapi individu dengan berbagai kondisi neurologi, perilaku, kesehatan mental, serta tantangan dalam berkomunikasi. Sehingga, dapat membantu orang lain memperbaiki perilakunya, termasuk kecanduan. (news.okezone.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.