Tumbuhnya Budaya Malu di SMP Negeri 1 Sariwangi

oleh -39 views
Lingkungan SMPN 1 Sariwangi Tasikmalaya (Asop Ahmad/siapbelajar)
Arrief Ramdhani
Lingkungan SMPN 1 Sariwangi Tasikmalaya (Asop Ahmad/siapbelajar)
Lingkungan SMPN 1 Sariwangi Tasikmalaya (Asop Ahmad/siapbelajar)

KOLASE, sebuah gerakan kesadaran terhadap lingkungan sekolah dari para  pelajar di SMP Negeri 1 Sariwangi Tasikmalaya. Komunitas lingkungan alam sekolah hijrah edukatif (Kolase) berdiri dua tahun silam tumbuh dari keperihatinan sekumpulan pelajar terhadap kebiasaan jelek membuang sampah sembarangan

Pada awalnya, hanya kegiatan memungut sampah. Setiap hari,  sepulang sekolah tim bergerak kesetiap kelas, halaman hingga sudut lingkungan sekolah lalu dikumpulkan, belum ada tindakan lanjutan dari aktivitas tersebut, diakui Rifania (15) Wakil Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) SMP Negeri 1 Sariwangi, waktu itu Ia dan yang lainnya hanya berfikir bagaiman supaya lingkungan sekolahnya bebas dari sampah yang berserakan

“Setelah itu baru muncul ide untuk mengelola sampah, dari beberapa kunjungan terhadap sekolah-sekolah yang ada komunitas lingkungannya, maka kami sepakat membagi beberapa katagori sampah yang semuanya bisa dimanfaatkan secara produktif, ada yang dijual, didaur ulang untuk berbagai kerajinan tangan dan sampah organik” kata Rifania

Saat ini anggota kolase sudah mencapai 30 orang dari 500 siswa di sekolah tersebut, namun setidaknya dari 6% itu sudah bisa membuat perubahan besar di lingkungan SMP Negeri 1 Sariwangi, menurut Aliza Fatma (14) Wakil Ketua OSIS, dari jumlah anggota yang ada dibagi menjadi enam tim kecil dan setiap hari mereka bergiliran memungut sampah

Tidak ada syarat khusus bagi siswa untuk masuk keanggotaan komunitas itu, yang penting ada kemauan dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sekolah, dampak dari adanya kolase, selain lingkungan terjaga dari kebersihan para siswa di sekolah itu mulai tertanam budaya malu, olokan terkadang teguran datang dari sesamanya bila salah seorang dari mereka kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya

“Perubahan sangat terasa, dahulu sampah yang berserakan banyak kita temukan, sekarang, kami hanya memungut dari tong-tong sampah yang tersedia disetiap depan kelas, setidaknya apa yang kita lakukan selama ini bisa menularkan perilaku positif” jelas Aliza Fatma. (Asop Ahmad/siapbelajar)