Tiga Potensi Anak yang Mesti Dijaga dan Dihebatkan

oleh -72 views
Kartini (35), salah satu peserta aksi literasi kesehatan yang diselenggarakan SD Negeri Pasirjeunjing, bersama kedua putranya; Malihatul Umah (13 bulan) dan Abdul M Pauji (8), tengah membaca buku.(Asop Ahmad/Siap Belajar)

TASIKMALAYA – Bagaimana seharusnya mendidik anak di zaman milenial? Sejatinya Islam sudah memberikan jawaban untuk pertanyaan itu sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum masuk era sekarang.

Irwan Rinaldi, tokoh parenting, memaparkan, Islam telah membuat peta jalan bagi para orangtua dalam mendidik anak. Ada banyak kisah yang seharusnya dijadikan contoh dalam berkeluarga.

PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

“Sejak sebelum menikah kita pasti sudah membuat road map. Kita berumah tangga itu tujuannya mendapat rida Allah Subhanahu wata’ala. Kita punya anak visinya bagaimana?” ujarnya saat menjadi pemateri dalam sebuah seminar di Kota Tasikmalaya, beberapa waktu lalu.

Saat punya anak laki-laki, sambung Irwan, lihat bagaimana keluarga Nabi Ibrahim dalam mendidik anak. Ismail tumbuh menjadi anak yang berbakti pada orangtua. Ketika diamanahi anak perempuan, baca bagaimana kisah Siti Maryam.

“Untuk anak perempuan, ajarkan kepada mereka tentang empat perempuan yang bukan saja hebat di dunia, tapi juga akhirat. Mereka adalah Maryam, seorang perempuan yang bisa menghebatkan anaknya. Kemudian Fatimah, perempauan yang menghebatkan orangtuanya. Ada Khadijah, perempuan yang menghebatkan suami. Juga Asiah, perempuan yang menghebatkan lingkungannya. Anak-anak perempuan kita harus tahu dan bisa mencontoh keempat perempuan hebat itu,” tutur Irwan.

Jika para orangtua mendidik anaknya berpijak para Al-Qur’an dan Sunnah, tandas Irwan, di zaman apapun anak-anak hidup, tak akan ada kekhawatiran berlebihan. Saat ini eranya teknologi komunikasi dan informasi yang tak mungkin bisa dihindari. Orangtua tak mungkin menjauhkan anak dari kemajuan itu.

Namun, jika orangtua paham dalam mendidik anak, maka akan tahu bagaimana dan ke mana mereka diarahkan. Irwan mencontohkan, anak usia 0-7 atau 8 tahun adalah masa emas bagi seorang manusia.

“Jangan pernah main-main di usia ini. Ada kehebatan yang Allah berikan di sepanjang hidup manusia, yaitu di rentang usia ini,” sebut Irwan.

Menurutnya, orangtua yang paham betapa berharganya usia 0-7/8 tahun pasti akan berpikir ulang untuk memberikan anak telepon seluler, misalnya. Pasalnya, di rentang usia itu, ada tiga potensi yang mesti dijaga dan dihebatkan, yaitu telinga, penglihatan, dan hati nurani.

“Kalau kita ingin mencetak anak yang luar biasa, hebatkanlah di tiga potensi itu saat anak berusia 0-7 atau 8 tahun. Sepanjang hidup manusia, itu rentang usia terbaik. Ada tiga pekerjaan kita, yaitu jaga dan hebatkan pendengaran anak, jaga dan hebatkan penglihatan anak, jaga dan hebatkan hati nurani anak,” jelas Irwan.

Berdasarkan riset, umur terbaik seorang manusia itu ada di rentang usia 0-7/8 tahun. Dalam Al-Qur’an, surat An-Nahl ayat 78, dijelaskan: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.

“Anak umur 0-7/8 tahun mampu menyimpan 5 ribu sampai 6 ribu kata per hari. Kalau mau punya anak yang hapal Al-Qur’an, maka ini usia yang tepat. Telinga anak kita harus sering mendengar lantunan Al-Qur’an,” paparnya. ***