Tantangan Terbuka untuk Peneliti, Ciptakan Inovasi yang Mudah Dikomersialisasi

Wednesday 10 April 2019 , 8:33 AM

Foto : Eco Aeator, inovasi ITS untuk petani tambak/ITS

KEMENTERIAN Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menantang para peneliti untuk mampu menciptakan inovasi yang mudah dikomersialisasikan. Pasalnya dalam 3 tahun terakhir, hanya 59 atau sekitar 11% dari 556 purwarupa inovasi binaan Kemenristekdikti yang mampu bertransformasi menjadi perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT).

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe menuturkan bahwa hasil penelitian dan pengembangan dari perguruan tinggi harus mengarah pada hasil. Selama ini, sebagian besar hasil penelitian inovasi hanya menumpuk sebagai jurnal ilmiah dan beragam hak paten.

“Hasil penelitian dari perguruan tinggi sebagian besar mati di tengah jalan. Untuk itu kami dorong agar perguruan tinggi ini jangan hanya menghasilkan paper dan mendaftarkan paten tetapi tanamkan jiwa wirausaha di samping mengembangkan skill,” kata Jumain dalam Peresmian Pelatihan Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi di Grand Mercure Hotel, Jakarta, Senin 8 April 2019 malam.

Ia mengatakan, sejak 2016, Kemenristekdikti memberikan pelatihan kewirausahaan kepada para peneliti yang sudah menciptakan purwarupa inovasi. Dengan demikian, diharapkan ke depannya ada banyak hasil penelitian yang bermanfaat langsung terhadap masyarakat. Bukan hanya penelitian yang hanya untuk memenuhi kebutuhan dunia akademis.

“Kami akan segera mengeluarkan Permenristekdikti terkait dengan skema penilaian perguruan tinggi. Aturan tersebut untuk merangsang jiwa usaha para peneliti. Skema penilaian perguruan tinggi saat ini berbasis pada input dan proses yang dilihat dari berapa jumlah dosen gelar S2, S3 dan profesor akan beralih pada berapa output dan outcome perguruan tinggi,” ujarnya.

Ia menuturkan, skema penilaian 60% outcome dan 40% input itu salah satunya bertujuan untuk mendukung penguatan program calon PPBT. Menurut dia, dengan skema tersebut, orientasi para peneliti secara perlahan akan berubah. Bukan lagi berbasis akhir kebutuhan akademis, tetapi juga menghasilkan penelitian yang bisa dikembangkan sendiri atau berwirausaha.

Ia menyatakan, sebelum menjalankan usaha sendiri, pemerintah akan memberikan pembinaan serta pelatihan secara berkala. “Anggaran yang dialokasikan untuk calon PPBT baru ini bertujuan agar dapat meningkatkan jumlah startup. Dengan begitu diharapkan dapat mendukung perekonomian Indonesia,” katanya.

Direktur PPBT Kemenristekdikti, Retno Sumekar mengatakan bahwa pada tahun ini sebanyak 132 calon PPBT akan mengikuti pelatihan melalui kegiatan boot camp selama tiga hari di Jakarta. Menurut dia, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan calon PPBT untuk menjadi PPBT yang unggul.

“Kegiatan boot camp ini akan diselenggarakan mulai dari tanggal 8 sampai 10 April. Ada132 perserta yang ikut dari 70 perguruan tinggi. Agenda kegiatannya berupa seminar, workshop, inspirational talk, dan succes story dari calon PPBT tahun sebelumnya yang berhasil naik kelas ke PPBT,” kata Retno.

Ia menegaskan, peserta pelatihan merupakan peneliti yang sudah memiliki purwarupa inovasi. “Jadi bukan mereka yang masih membicarakan ide inovasi, tapi sudah ada hasil inovasinya berupa prototype,” katanya.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.