Sosialisasi Pembelajaran Abad 21

oleh -7 views
Seminar 21th Century Learning for Digital Natives - inilah.com
Arrief Ramdhani
Seminar 21th Century Learning for Digital Natives - inilah.com
Seminar 21th Century Learning for Digital Natives – inilah.com

PENERAPAN cara belajar yang sama seabad terakhir, membuat ‘penduduk asli negeri digital’ cepat merasa bosan bahkan benci belajar di sekolah.

Jumat (27/6) petang di Koffie Tijd Jalan Flores, Kota Bandung, pakar komunikasi dan praktisi pendidikan Dr Jalaluddin Rakhmat berbincang santai dengan sang cucu Muhammad Delshady Rakhmat.

Pagi harinya Jalaluddin dan Delshady baru selesai menjadi pembicara dalam Seminar 21th Century Learning for Digital Natives: Pembelajaran Abad 21 untuk Generasi Digital, di Auditorium Gedung Cyber Security Center Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Mereka asyik bercakap dalam bahasa Inggris, membahas pengalaman mengunduh software berbayar dari sejumlah situs di internet. Delshady yang kini duduk di kelas VIII SMP Bahtera Muthahhari terlihat, mengerti betul apa yang dimaksud sang aki.

Jalaluddin mengatakan, Delshady dan teman-teman seangkatannya, menurut penulis, pembicara, sekaligus peneliti pendidikan asal Amerika Serikat, Marc Sprensky sebagai digital natives atau penduduk asli negeri digital.

Pelajar sekarang sejak TK hingga universitas adalah generasi pertama yang dibesarkan dan belajar dengan memanfaatkan teknologi digital terbaru. Hidup mereka dikelilingi aneka produk digital seperti komputer, video games, digital music player, video camera, smart phone, tablet, dan produk lain.

“Banyak di antara mereka bosan bahkan benci belajar di sekolah. Anak-anak sudah hidup di zaman digital, tapi pembelajaran yang diterapkan masih sama dengan nenek dan kakek mereka pada abad industrial bahkan agraris. Ini membuat anak-anak stres dan cenderung melakukan tindak kekerasan. Tidak ada cara lain kecuali kita, para digital immigrants, harus mengubah paradigma,” jelasnya.

Lahirnya digital natives di berbagai negara di dunia terkait erat dengan arah pertumbuhan perekonomian global, yang perlahan beralih dari sektor industri ke jasa informasi.

Kang Jalal, pendiri Yayasan Muthahhari kemudian mencontohkan, berdasar data tahun 2008, sektor jasa informasi dan non-informasi dengan capaian 86%, telah mendominasi ekonomi Amerika Serikat. Sektor ini hanya mencapai 36% pada tahun 1967 kemudian tumbuh menjadi 56% pada 1997.

Narasumber dari STEI ITB Armein ZR Langi PhD menjelaskan, 21th Century Learning for Digital Natives memberi keragaman pendekatan kepada anak-anak untuk belajar sesuai minat mereka. Mereka pun diberi kebebasan untuk memilih tantangan dan tingkat kesulitan sesuai kemampuan mereka.

“Ini tidak bisa dilakukan jika pendidikan memakai konsep seperti pabrik. Pendidikan massal dan ada standardisasi nilai. Tentuk konsep seperti ini bukan tidak baik, tapi jika dikaitkan dengan tantangan global, apa masih bisa diterapkan?” ujarnya.

Selain tiga narasumber tadi, seminar dengan peserta para guru dan peserta umum juga menghadirkan pembicara Yusep Rosmansyah PhD dari STEI ITB, Praktisi Pebisnis Andri Qiantori PhD mewakili Dirut PT Telkom Indonesia, dan Firstman Marpaung dari Intel Asia Pasific Indonesia.(inilah.koran.com)

19 thoughts on “Sosialisasi Pembelajaran Abad 21

  1. Ping-balik: replica rolex
  2. Ping-balik: DevOps Strategies
  3. Ping-balik: tag heuer replica
  4. Ping-balik: sbobet
  5. Ping-balik: online casino
  6. Ping-balik: hack instagram
  7. Ping-balik: world market url

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.