SMPN 18 Kota Cirebon Pecahkan Rekor MURI Membatik Topi

oleh -46 views
Ilustrasi : solopos.com
Arrief Ramdhani
Ilustrasi : solopos.com
Ilustrasi : solopos.com

KEGIATAN membatik dengan media topi yang dilakukan 515 siswa dan siswi SMPN 18 Kota Cirebon Kamis (2/10/2014), memecahkan rekor MURI bahkan dunia.

Proses membatik topi dilakukan di halaman SMPN 18 Kota Cirebon melibatkan siswa dan siswi dari kelas 7 sampai kelas 9. Menghabiskan 1 kuintal lilin atau malam, menggunakan 87 kompor gas, dan 70 tabung gas. Motif batik bebas menurut kreasi masing-masing siswa.

Rekor tersebut memecahkan rekor sebelumnya yang diraih oleh Pemerintah Pekalongan Jawa Tengah bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Undip Semarang, yakni membatik di atas media topi bedah sebanyak 386 peserta, pada 2 Oktober 2011 lalu.

Kegiatan yang digelar bersamaan dengan Hari Batik Nasional tersebut, juga merupakan rangkaian dari kegiatan menyambut Hari Jadi Kota Cirebon ke 645 yang jatuh setiap 1 Muharam.

Penghargaan MURI diserahkan Senior Manager MURI Paulus Pangka kepada Kepala Sekolah SMPN 18, Sumiyati.

“Ini merupakan rekor MURI kedua untuk Cirebon. Bahkan bukan hanya rekor MURI tapi dunia. Sehari sebelumnya, Cirebon meraih Rekor MURI juga untuk stempel batik raksasa bermotif mega mendung,” ujar Paulus usai penyerahan piagam. Paulus Pangka mengatakan, penghargaan pemecahan rekor tersebut tercatat sebagai penghargaan yang ke-6.665.

Menurutnya, membatik dengan media topi baru pertama kalinya dilakukan di Indonesia bahkan di dunia.

“Khusus untuk membatik topi, baru di SMPN 18 Kota Cirebon yang melakukannya. Kalau di media kaos, kain, dan baju sudah banyak,” ujarnya.

Staf ahli Wali Kota Cirebon bidang pemerintahan Abidin mengapresiasi kegiatan siswa-siswi SMPN 18, yang dinilainya penuh inspirasi dan motivasi.

Ia berharap, melalui pemecahan rekor tersebut, seluruh anak-anak bangsa termotivasi untuk semakin mencintai batik, sebagai warisan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dilestarikan.

“Kegiatan membatik jangan dianggap sepele. Dalam membatik terkandung nilai-nilai luhur upaya pelestarian budaya kita yang adiluhung,” katanya mewakili Wali Kota Cirebon Ano Sutrisno.

Sedangkan Kepala Sekolah SMPN 18 Kota Cirebon, Sumiyati menyatakan, kegiatan membatik sudah masuk dalam ekstrakulikuler di sekolahnya.

Menurut Sumiyati, pemecaharn rekor MURI tersebut, merupakan rangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Batik Nasional dan menyambut Hari Jadi Kota Cirebon ke 645.

Sehari sebelumnya, stempel batik raksasa berukuran 2×3 meter atau 30 kali lipat dari ukuran normal, mencatat rekor MURI sebagai stempel batik terbesar di Indonesia.

Stempel berlabel Batik Trusmi itu bermotif mega mendung. Pemilik stempel, Ibnu Prayitno mengatakan, stempel tersebut bukan sebatas replika, melainkan stempel asli yang dapat digunakan pada kain. Hanya saja membutuhkan sedikitnya 20 tenaga pengrajin untuk menggunakannya.

“Dibuat dari campuran besi dan kuningan. Beratnya sekitar 200 kilogram,” kata dia saat ditemui di sela-sela pemecahan rekor di Balaikota Cirebon, Rabu (1/10/2014).(pikiran-rakyat.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.