SMKN 14 Bandung, Tak Ingin Keramik Tergerus Zaman

Thursday 30 January 2014 , 1:04 AM
Ilustrasi

Ilustrasi

TUJUH siswa SMKN 14 Bandung terlihat asyik berdiskusi di sebuah ruang kelas. Seragam hitam merah yang mereka pakai, jadi pertanda mereka siap praktik di bengkel kramik.

Ruangan besar dengan atap seng itu terlihat sepi. Ruangan ini memperlihatkan banyak mesin putar dan beberapa tanah liat yang belum selesai dibentuk. Tampak dua siswa asyik membentuk tanah liat di meja putar.

Sebelumnya sekolah yang beralamat di Jalan Cijawura Hilir No 341 Buahbatu, Kota Bandung ini dikenal sebagai Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). SMKN 14 Bandung masuk ke dalam kelompok bidang keahlian Seni Rupa, Kriya, dan Teknologi.

Wakil Kepala SMKN 14 Bandung Bagian Kesiswaan Jose Ifgarianto SPd menjelaskan, Jurusan Kriya dikembangkan menjadi lima jurusan pada 1994. Yaitu, Jurusan Tekstil, Kulit, Keramik, Logam dan Kayu. Masing-masing jurusan itu memiliki bengkel khusus dengan siswanya terbilang sedikit.

“Siswa yang memilih masuk ke jurusan kriya memang tidak banyak. Meski begitu, SMKN 14 Bandung adalah satu-satunya sekolah di Jawa Barat yang memiliki kompetensi keahlian keramik,” jelas ria 44 tahun ini saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.

Jumlah keseluruhan siswa Jurusan Keramik ada 54 dari kelas I sampai III. Sedangkan untuk jumlah pengajar di jurusan ini ada empat orang. Para siswa Jurusan Keramik ini pun sering ditunjuk mewakili Provinsi Jabar di ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) antar-SMK tingkat nasional yang diadakan tiap tahun.

Sehari-hari para siswa dan guru di Jurusan Keramik beraktivitas di Bengkel Kerajinan Keramik. Gedung yang berada di depan lapangan sepak bola ini cukup mudah ditemui karena ada papan besar bertulis Bengkel Kerajinan Keramik. Selain ruang praktik, di sini ada juga ruang guru serta satu ruang kelas.

Berbagai macam materi disampaikan sebelum para siswa mulai praktik. Terkadang siswa ditugaskan menggambar terlebih dahulu. Sebagai bentuk praktik, tanah liat merupakan bahan utama yang diperlukan. Bahan-bahan ini biasanya di dapat dari daerah Purwakarta atau Sukabumi.

“Biasanya untuk pengembangan dan mencari karakter baru dapat ditambahkan bahan pendukung lain seperti berbagai jenis tanah atau pasir,” terang Ketua Kompetensi Keahlian Keramik Drs Dida Prayudi Braja MDs.

Karya para siswa terlihat dipajang di sebuah sudut ruangan bengkel. Terkadang ada pengunjung yang datang ke bengkel dan tertarik dengan hasil karya dapat membeli karya tersebut. Perbedaan kompetensi setiap siswa membuat jurusan tidak bisa menargetkan kualitas barang untuk dijual.

“Bengkel Keramik kami terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar tentang kria keramik. Sudah banyak kerja sama yang dilakukan antara sekolah, jurusan dan pihak lain yang ingin melakukan workshop keramik. Mereka yang belajar mulai dari taman kanak-kanak hingga remaja. Bahkan ada juga orang dewasa belajar di sini,” terangnya.

Dida menambahkan, lulusan dari Jurusan Keramik SMKN 14 Bandung ditargetkan segera bekerja setelah lulus. Hal ini juga didukung kerja sama sekolah dengan beberapa lembaga. Untuk kerja di industri pun diperlukan berbagai keahlian mulai dari proses pembentukan hingga proses dekorasi.

Saat ini keramik hasil karya siswa juga dipamerkan di berbagai event di luar sekolah. Ke depannya, jurusan memiliki target utama agar hasil karya tersebut dapat layak jual. Lulusannya pun diharapkan dapat berwirausaha di bidang keramik.

Para siswa di pun memiliki alasan beragam masuk ke Jurusan Keramik. Seperti diakui siswa kelas III Jurusan Keramik Kurniawati. Remaja 17 tahun ini mengaku ikut saudaranya yang belajar di jurusan yang sama. Sejumlah siswa lain juga punya alasan sendiri.

“Awalnya ingin masuk tekstil tapi enggak diterima. Akhirnya mencoba masuk Jurusan Keramik karena unik dan memang sayanya juga ingin tahu,” terang siswa kelas III Jurusan Keramik Ratih Puspodewi.

Sementara, rekan sekelas Ratih, Vidika Alamsyah (18) memilih Jurusan Keramik karena tidak lulus di jurusan yang dinginkan. Namun setelah dijalani, Vidika justru termotivasi berbagi wawasan kepda orang lain.

“Setelah lulus nanti saya ingin berbagai ilmu membuat keramik kepada para narapidana di berbagai Lembaga Pemasyarakatan (LP). Insya Allah, dari ilmu yang saya dapat di Jurusan Keramik bisa bekal member motivasi kepada para napi untuk bisa membuat keramik, walaupun tidak bekerja di industri keramik,” jelas Vidika.(inilahkoran.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published.