SMK PGRI 3 Cimahi Jagokan Teknologi Tepat Guna

oleh -44 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
SMK PGRI 3 Cimahi
SMK PGRI 3 Cimahi

TEKNOLOGI sederhana bidang energi karya siswa sekolah ini sudah terstandar, diproduksi massal, dan dimanfaatkan masyarakat.

Kiprah siswa SMK PGRI 3 Cimahi tidak diragukan lagi. Meski berlabel swasta, sekolah kejuruan yang ada di Jalan Terusan Babakan Baru Kota Cimahi ini memiliki kepercayaan diri bersaing ditingkat nasional dan internasional.

banner 728x90

Buktinya, sekolah kejuruan ini memiliki produk teknologi andalan yang bisa menjadi solusi dari beberapa permasalahan masyarakat. Salah satunya di bidang energi. Temuan ini sudah distandardisasi, diproduksi massal, dan dimanfaatkan masyarakat.

Meskipun baru menginjak kelas X, Tatang Setiawan tampak percaya diri. Siswa Jurusan Elektronika Industri SMK PGRI 3 Cimahi ini penuh semangat mengenalkan teknologi sederhana ciptaannya bersama teman-teman sekelas dan bimbingan sang guru.

“Kami mengenalkan teknologi tepat guna pembangkit listrik tenaga gravitasi. Sepenuhnya memanfaatkan ruang hampa udara dalam paralon,” tutur Tatang, saat ditemui INILAH.COM di sela-sela lomba Teknologi Tepat Guna di Cimahi Convention Hall (CCH), belum lama ini.

Bantuan ruang hampa udara yang didesain sederhana di dalam paralon, bisa memberikan tekanan pada air untuk turun naik tanpa perlu ada mesin atau alat bantuan.

“Perputaran air yang naik turun itu dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin sehingga bisa menghasilkan listrik. Memang daya listrik yang dihasilkan tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menyalakan lampu kamar ataupun charge ponsel,” ujarnya.

Sementara siswa kelas XII Jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Rizal mengenalkan pembangkit listrik tenaga (PLT) kincir angin sederhana. Sistem ini mampu menciptakan alat pembangkit listrik sederhana dengan bahan dasar menggunakan accumulator (accu). Alat ini mampu menghasilkan tenaga listrik DC sampai 12 volt.

Untuk menghasilkan daya listrik dari DC ke AC, Rizal dan beberapa rekannya menambah alat lainnya berupa inventer. Tujuannya untuk meningkatkan daya yang dihasilkan accu hingga dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.

“Inventer ini mudah dibuat oleh siapa saja dan biaya yang harus dikeluarkannya tidaklah terlalu mahal,” ujarnya.

Sebelum diikutsertakan dalam lomba, Rizal mengujicobakan alat ini di kawasan Cililin Kabupaten Bandung Barat. Hasilnya, alat mereka mampu mengatasi kelangkaan listrik rumah warga setempat.

“Waktu itu dicoba di Cililin, hasil kreasi kami mampu menghasilkan daya listrik yang dipasangkan pada lampu untuk lima rumah warga,” katanya.

Lantas, berapa biaya yang diperlukan untuk membuat kincir sederhana itu? Dia menyebutkan, total biaya untuk membuat satu rangkaian alat listrik tersebut mencapai Rp200.000.

“Yang membuat rangkaian ini sedikit mahal yaitu untuk membeli accu kering. Kalau dinamo, ini bisa menggunakan yang bekas. Kami juga mencari dari sepeda yang rusak,” kata dia.

Meski begitu, biaya yang dikeluarkan untuk membuat itu tidak cukup mahal karena pembuatan rangkaian ini mencakup pembelian rangakaian lain yang jadi. Tapi jika dibandingkan dengan barang sejenis yang bisa menghasilkan daya listrik yang sama, alat tersebut jauh lebih murah.

“Ini termasuk rangkaian sederhana dengan perpaduan barang-barang bekas yang masih layak pakai untuk dibuat sebagai kreativitas rangakaian,” ujarnya.

Dengan biaya sebesar itu bisa memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari dengan menghasilkan daya 220 volt.

“Pembangkit listrik ini sederhana, praktis dan efisien. Alat ini dapat dimodifikasi untuk dipergunakan berbagai kebutuhan, oleh karena itu kami mengharapkan dukungan pemerintah agar ciptaan ini bisa digunakan masyarakat dalam mengatasi kelangkaan energi,” tambahnya.

Peneliti Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna LIPI, Hendarwin M.Astro yang ikut mengamati karya para siswa ini mengaku terkesan dan mengapresiasi positif karya para siswa SMK.

Bahkan, teknologi tepat guna tersebut menggambarkan kreativitas dan semangat siswa untuk membantu memberikan solusi atas permasalahan masyarakat.

“Kreativitas seperti ini sangat bagus. Apalagi mereka masih statusnya siswa sekolah. Mereka harus terus dimotivasi dan didukung untuk terus dikembangkan. Semoga bisa dikembangkan dan bermanfaat untuk masyarakat,” katanya.(inilahkoran.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.