SMK Akan Diberlakukan Sister School

Wednesday 31 July 2019 , 7:20 AM

Siswa SMK jurusan Tata Boga melakukan uji kompetensi keahlian (ilustrasi) (republika.co.id)

MEREVITALISASI SMK, sama dengan merevitalisasi kurikulum yang ada di SMK. Kurikulum itu harus disesuaikan dengan kebutuhan industri. Atau, bisa saja kurikulum itu dibuat bersama-sama dengan dunia industri. Sehingga, SMK dapat merancang kurikulum yang tepat dengan keterampilan lulusan yang dibutuhkan oleh dunia industri.

Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Jawa Barat, Deden Saeful Hidayat menyebutkan rencana revitalisasi itu sudah berlangsung sejak 2,5 tahun lalu. Dengan demikian, road map-nya sudah ada. Road map itu, kata Deden, tidak hanya melibatkan sekolah dan dunia usaha dunia industri.

“Tapi juga harus melibatkan pemerintah daerah. Karena sekolah-sekolah itu berada di kota/kabupaten yang tersebar di Jawa Barat. Pemerintah daerah juga dapat membantu untuk memetakan kebutuhan lulusan bagi dunia industri dan dunia usaha,” ucapnya, Senin, 29 Juli 2019.

Saat ini, terdapat sebanyak 108 kompetensi keahlian. Beberapa di antaranya, terbilang terlalu banyak. Bahkan, Deden mengatakan tidak sedikit kompetensi keahlian yang tidak sesuai dengan kondisi daerah.

Misalnya, di daerah yang sedikit kawasan industri, tapi terdapat banyak kompetensi keahlian yang digunakan oleh kawasan industri.

“Akibatnya, lulusan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Atau mereka terpaksa mencari pekerjaan ke luar dari daerahnya,” ujarnya.

Oleh karena itu, ke depannya, lanjut Deden,reposisi SMK itu dimaksudkan untuk menyediakan kompetensi keahlian yang sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) daerah masing-masing. Contohnya, di daerah pertanian, maka kurikulum yang dikembangkan harus berhubungan dengan pertanian.

“Pertanian itu maksudnya tidak hanya proses bercocok tanam, tapi sudah pada teknologi yang mampu menghitung kesempurnaan produk yang dibutuhkan oleh pasar,” ujarnya.

Selain itu, akan dibangun juga program sister school di mana sekolah yang terbilang mapan akan jadi rujukan pembelajaran. Bahkan sekolah-sekolah lain dapat memanfaatkan sarana dan prasarana di sekolah unggul tersebut. Hal itu mengingat, belum meratanya sarana dan prasarana di SMK baik negeri maupun swasta.

Deden juga mengatakan sekolah-sekolah yang memiliki teaching factory unggulan akan didorong untuk menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Deden mengatakan dengan menjadi BLUD akan memudahkan sekolah menerima pekerjaan dari pihak lain.

Deden juga menyebutkan sudah banyak SMK yang membuat kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri. Ia mencontohkan SMKN 11 Bandung yang dikepalai Anne Sukmawati sudah bekerja sama dengan industri untuk beberapa kompetensi keahlian. Demikian juga SMKN 13 Bandung yang siswanya sudah banyak direkrut oleh industri sebelum lulus oleh industri kimia.

Bahkan sekolah di daerah seperti SMKN di Tasikmalaya dan Ciamis, telah dipercaya produk kriyanya oleh tempat-tempat wisata. Ditambah lagi, Jawa Barat sebagai salah satu pilot project dari revitalisasi SMK, memang harus mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.