SLBN-A Citeureup Sekolah Terapis Pijat Profesional

oleh -52 views
Ilustrasi (www.solopos.com)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (www.solopos.com)
Ilustrasi (www.solopos.com)

SISWA di sekolah ini tidak hanya dibekali ilmu teknik pijat yang benar, tapi diberikan pula pengetahuan tentang kesehatan manusia.
Dalam setiap persimpangan peradaban manusia, akan selalu hadir sumbangsih karya yang awalnya hanya dianggap biasa namun justru menjadi sangat luar biasa. Awalnya sederhana namun berubah menjadi lentera kehidupan.

Tidak berlebihan jika sanjungan itu disematkan untuk Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Citeureup Kota Cimahi. Sekolah yang telah berdiri selama puluhan tahun itu ternyata berhasil menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang bermakna.

Ya, di lembaga pendidikan satu atap yang menaungi pendidikan pra-sekolah hingga SMA, di bawah pembinaan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat ini membuktikan kiprahnya. Sekolah ini telah banyak menghasilkan tukang pijat handal yang tersebar hingga di seluruh Indonesia.

SLB ini dulunya hanya untuk tunanetra, namun sejak 2008 menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) beragam ketunaan. Seperti siswa tunarungu, tunagrahita, dan sebagainya.

Namun karena fokus awalnya untuk siswa tunanetra, maka sekolah ini banyak siswa demikian. Hasilnya, lulusan sekolah ini banyak yang mandiri, bisa menghidupi diri dan keluarganya. Tak sedikit di antara mereka yang menjadi terapis pijat profesional.

Bagaimana rahasianya? Begini, dalam seminggu siswa-siswi mulai kelas 7-12 mendapat pelajaran keterampilan memijat dua kali. Oleh gurunya, mereka dilatih teknik pemijatan yang benar dan belajar anatomi manusia dan ilmu kesehatan lainnya.

Karena belajar anatomi tubuh manusia, sehingga orang yang mau dipijat pun tidak perlu khawatir jika nantinya salah urat atau salah pijat karena mereka sudah paham apa saja yang boleh dipijat, tekanannya berapa kuat, dan cara pijatannya juga ada seni dan tekniknya. Jadi bukan asal pijat.

Seorang tenaga pengajar, Danias Barus menjelaskan, ada beberapa ilmu pijat yang diberikan kepada siswa SMP dan SMA SLBN A Citeureup. Di antaranya massage yang diberikan kepada kelas 7 sampai 9. Sementara kelas 10 diajarkan siatsu, serta kelas 11 dan 12 diajarkan akupresur dan bekam.

“Di SMP sudah diajari dasar-dasar memijat. Untuk siatsu dan akupresure diberikan kepada siswa SMA karena teknik ini lebih sulit. Kami harapkan, saat mereka keluar sekolah sudah memiliki keterampilan untuk bekerja langsung,” beber Danias saat ditemui wartawan di SLBN A Citeureup Jalan Sukarasa No 40, Citeureup, Cimahi Utara Kota Cimahi, Minggu (11/10/2014).

Diakuinya, meski mereka hidup dengan keterbatasan indra, tetapi mereka mempunyai semangat yang tidak mudah menyerah dan tidak mau menjadi beban orang lain. Bila telah mendapatkan penjelasan dari guru, tak jarang mereka langsung mempraktikkannya.(inilahkoran.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.