Siswa SMK Ingin Lebih Banyak Pengalaman

oleh -26 views
Siswa SMK jurusan Tata Boga melakukan uji kompetensi keahlian (ilustrasi) (republika.co.id)
Arrief Ramdhani

DIREKTORAT  Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merancang sekolah menengah kejuruan (SMK) selama empat tahun dengan lulusan mendapatkan ijazah D-1 atau D-2. Siswa SMK berharap kebijakan ini diharapkan fokus pada memperbanyak pengalaman siswa sebelum lulus.

“Harapan saya, kalau SMK jadi empat tahun bisa banyak pengalaman dan lebih mendalami pelajarannya sebelum masuk ke dalam dunia kerja,” kata siswi SMK Negeri 1 Yogyakarta, Sania, kepada Republika, Jumat (12/6).

PERKEMBANGAN VIRUS CORONA

Berita Selengkapnya

Sementara siswa SMK Negeri 1 Purwakarta, Syahrul, mengatakan, kebijakan SMK menjadi empat tahun dan mendapat ijazah D-1 atau D-2 harus bisa menguatkan kompetensi siswa. Menurut dia, saat ini lulusan SMK ketika mencari pekerjaan tidak juga tidak mudah. Semua tergantung kompetensi maupun keahlian lulusan.

“(Mendapat pekerjaan) itu juga tergantung softskill sama hardskill seseorang juga, soalnya kan ada yang sudah mantap ada yang belum. Mungkin dengan jadi empat tahun, bagi mereka yang belum mendapat passion di bidangnya juga bisa jadi dapat passion,” kata dia.

Wakil Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Palibelo, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) Eka Ilham, mengatakan, hal yang perlu menjadi catatan adalah tersedianya lapangan pekerjaan bagi para lulusan SMK. Persoalan yang selama ini dihadapi, kata dia, adalah mendapatkan pekerjaan sesuai keahlian anak-anak ini.

“Apa jaminan anak-anak ini setelah mereka keluar dari SMK ini, apakah mereka dengan program SMK ijazah D-1 dan D-2 ini, bisa atau nggak menjamin anak-anak lulusan SMK ini mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlian mereka,” kata Eka.

Dia mengatakan, Kemendikbud jangan hanya merencanakan kebijakan tersebut. Namun, juga harus mempersiapkan kondisi lapangan dan jaminan bahwa dunia usaha dan dunia industri (DUDI) dapat merangkul para lulusan SMK ini.

Menurutnya akan percuma mengeluarkan program-program namun tidak diperkuat jaringan antara SMK dengan pengusaha. Sebab, tujuan SMK adalah bagaimana anak-anak didik setelah lulus bisa mendapat pekerjaan alias tidak menganggur.

Direktur Eksekutif Apindo, Agung Pambudi, menilai, yang dibutuhkan sekolah vokasi adalah fleksibilitas belajar. Menurut dia, akan baik jika siswa dapat bebas menentukan durasi studinya sesuai kebutuhan bidang keterampilannya.

“Misal kuliah satu tahun terus keluar, lalu kerja dan setelah sekian lama kerja ingin kuliah lagi untuk mendapat kompetensi lanjutan. Dia bisa masuk kuliah lagi. Jadi fleksibel sesuai kebutuhan,” kata Agung.

Menurut dia, pembelajaran di sekolah vokasi harus sesuai kebutuhannya. Tantangan mesti dikemas dengan paket kurikulum spesifik yang sesuai kebutuhan untuk satu jabatan atau profesi.

Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merancang sekolah menengah kejuruan (SMK) selama empat tahun dengan lulusan mendapatkan ijazah D-1 atau D-2. Siswa SMK berharap kebijakan ini diharapkan fokus pada memperbanyak pengalaman siswa sebelum lulus.

“Harapan saya, kalau SMK jadi empat tahun bisa banyak pengalaman dan lebih mendalami pelajarannya sebelum masuk ke dalam dunia kerja,” kata siswi SMK Negeri 1 Yogyakarta, Sania, kepada Republika, Jumat (12/6).

Sementara siswa SMK Negeri 1 Purwakarta, Syahrul, mengatakan, kebijakan SMK menjadi empat tahun dan mendapat ijazah D-1 atau D-2 harus bisa menguatkan kompetensi siswa. Menurut dia, saat ini lulusan SMK ketika mencari pekerjaan tidak juga tidak mudah. Semua tergantung kompetensi maupun keahlian lulusan.

“(Mendapat pekerjaan) itu juga tergantung softskill sama hardskill seseorang juga, soalnya kan ada yang sudah mantap ada yang belum. Mungkin dengan jadi empat tahun, bagi mereka yang belum mendapat passion di bidangnya juga bisa jadi dapat passion,” kata dia.

Wakil Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Palibelo, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) Eka Ilham, mengatakan, hal yang perlu menjadi catatan adalah tersedianya lapangan pekerjaan bagi para lulusan SMK. Persoalan yang selama ini dihadapi, kata dia, adalah mendapatkan pekerjaan sesuai keahlian anak-anak ini.

Dia mengatakan, Kemendikbud jangan hanya merencanakan kebijakan tersebut. Namun, juga harus mempersiapkan kondisi lapangan dan jaminan bahwa dunia usaha dan dunia industri (DUDI) dapat merangkul para lulusan SMK ini.

Menurutnya akan percuma mengeluarkan program-program namun tidak diperkuat jaringan antara SMK dengan pengusaha. Sebab, tujuan SMK adalah bagaimana anak-anak didik setelah lulus bisa mendapat pekerjaan alias tidak menganggur.

Direktur Eksekutif Apindo, Agung Pambudi, menilai, yang dibutuhkan sekolah vokasi adalah fleksibilitas belajar. Menurut dia, akan baik jika siswa dapat bebas menentukan durasi studinya sesuai kebutuhan bidang keterampilannya.

“Misal kuliah satu tahun terus keluar, lalu kerja dan setelah sekian lama kerja ingin kuliah lagi untuk mendapat kompetensi lanjutan. Dia bisa masuk kuliah lagi. Jadi fleksibel sesuai kebutuhan,” kata Agung.

Menurut dia, pembelajaran di sekolah vokasi harus sesuai kebutuhannya. Tantangan mesti dikemas dengan paket kurikulum spesifik yang sesuai kebutuhan untuk satu jabatan atau profesi.(republika.id)