Siswa SMAN 1 Tasik Buat Pendeteksi Banjir Via Sms

oleh -11 views
Ilustrasi.(kabar-priangan.com)
Arrief Ramdhani
Siswa Sman 1 Tasik Buat Pendeteksi Banjir Via Sms.(kabar-priangan.com)
Siswa Sman 1 Tasik Buat Pendeteksi Banjir Via Sms.(kabar-priangan.com)

SISWA dari beberapa sekolah lanjutan atas (SMA/SMK) se Kota Tasikmalaya beradu hasil karya teknologi di ajang lomba dan gelar teknologi tepat guna tingkat Kota Tasikmalaya, yang digelar di GOR Dadaha Kota Tasikmalaya mulai Rabu (10/12) hingga Jumat (12/12/2014) mendatang.

Berbagai siswa memperlihatkan hasil karyanya untuk dinilai oleh panitia yang tentunya juga dilengkapi dengan presentasi dari masing-masing siswa di depan tim penilai.

banner 728x90

“Kalau presentasinya besok (hari ini-red). Kami harus men­­­jelaskan kegunaan alat yang kami buat,” kata peserta lomba siswa SMA Negeri 1 Ko­ta Tasikmalaya, Reza Fa­dilah D, Rabu (10/12/2014).
Untuk lomba teknologi kali ini, Reza bersama rekannya, Muthia Shafaria Nur yang di­bimbing oleh guru SMA N 1 Kota Tasikmalaya, Cecep me­nampilkan alat pengukur intensitas curah hujan.
Alat sederhana yang dibuat dengan menggunakan alat-alat sederhana dan mudah didapatkan itu memiliki manfaat yang luar biasa untuk mitigasi kebencanaan.

Kelebihan alat teknologi te­pat guna tersebut, selain bisa mengetahui potensi curah hu­jan apakah akan berdampak banjir atau tidak, informasinya bisa diketahui melalui pesan singkat (SMS).
“Alat sederhana yang kami buat selain berharap bisa me­menangkan lomba, juga bisa memberi manfaat bagi masya­rakat, terutama yang ada di dae­­rah rawan banjir,” kata Muthia.

Masyarakat tegas dia perlu tahu bagaimana hujan yang turun berpotensi banjir atau tidak, bisa diketahui melalui alat yang dibuatnya. Dan ma­syarakat bisa langsung mengetahuinya melalui pesan sing­kat.
Siswa SMA Al-Muttaqin lain lagi dalam membuat karya tek­nologinya. Mereka membuat teknologi sederhana pompa air manual. Alat tersebut dibuat dengan memanfaatkan limbah.
Vintari, Rislan dan Shanaz sengaja membuat alat sederhana itu, terinspirasi oleh para petani di Jawa yang kerap menimba air untuk nyiram tanaman.

Dengan alat sederhana tersbeut, kata Vintari, para petani tidak lagi harus menimba dan cukup menggerakan alat tersebut maka air akan ke luar. (kabar-priangan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.