Siswa SLTP/SLTA Mendapat Pendidikan Kebencanaan

oleh -0 views
EBANYAK 85 orang pelajar setingkat SLTP/SLTA di Kecamatan Limbangan mengikuti pembinaan dan penyuluhan kebencanaaan dari BPBD Garut yang berlangsung Selasa (20/5/2014) di Gedung PGRI Limbangan.(pikiran-rakyat.com)
Arrief Ramdhani
EBANYAK 85 orang pelajar setingkat SLTP/SLTA di Kecamatan Limbangan mengikuti pembinaan dan penyuluhan kebencanaaan dari BPBD Garut yang berlangsung Selasa (20/5/2014) di Gedung PGRI Limbangan.(pikiran-rakyat.com)
EBANYAK 85 orang pelajar setingkat SLTP/SLTA di Kecamatan Limbangan mengikuti pembinaan dan penyuluhan kebencanaaan dari BPBD Garut yang berlangsung Selasa (20/5/2014) di Gedung PGRI Limbangan.(pikiran-rakyat.com)

MENYANDANG predikat sebagai daerah paling rawan bencana di tingkat nasional, Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Garut tidak pernah lelah menggelar pelatihan dan penyuluhan kebencanaan terhadap masyarakat. Pembinaan peningkatan kewaspadaan bencana pun diberikan kepada para remaja.

Sebanyak 85 orang pelajar setingkat SLTP/SLTA di Kecamatan Limbangan mengikuti pembinaan dan penyuluhan kebencanaaan dari BPBD Garut yang berlangsung Selasa (20/5/2014) di Gedung PGRI Limbangan. Selain pelajar, acaea tersebut diikuti pula oleh para guru pembina dari masing-masing perwakilan sekolah setempat.

Kepala BPBD Garut, Dik Dik Hendarajaya mengatakan, pengetahuan kebencanaan sudah seharusnya menjadi muatan lokal di wilayah yang paling rawan bencana.

Pendidikan di sekolah sangat startegis guna menanamkan pengetahuan sejak usia dini dan sosialisasi tentang kearifan lokal yang dimiliki daerah tersebut.

“Sekolah adalah sarana yang efektif. Peran guru terhadap anak didiknya mampu mendorong terbangunnya budaya mitigasi dalam lingkup sekolah dan keluarga”, kata Dik Dik.

Menurutnya, sekolah harus siap menghadapi resiko bencana karena merupakan ruang publik dengan tingkat kerentanan tinggi. Tiak jarang bencana alam menimbulkan kerusakan ruang kelas sehingga proses kegiatan belajar mengajar secara normal pun terganggu.

Untuk itu, BPBD Garut mengunjungi sekolah sekolah dan menanamkan kesadaran serta pemahaman terkait mitigasi kebencanaan.

Dalam memberikan materi BOPBD menggandeng pula para pegiat lingkungan serta jajaran pengurus Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kabupaten Garut.

Sepanjang 2013, tanah longsor merupakan bencana yang paling banyak memakan korban jiwa dengan jumlah korban tujuh. Tahun lalu terjadi 90 kali tanah longsoryang membuat 1.025 jiwa dari 79 keluarga mengalami kerugian materi.

Sementara bencana yang paling sering terjadi adalah kebakaran yaitu sebanyak 123 kali. Kebakaran menyebabkan 785 jiwa dari 195 keluarga kehilangan rumah dan satu orang tercatat meninggal dunia.

Banjir juga menyebabkan setidaknya 2.245 rumah terendam yang rata rata berlokasi di kawasan perkotaan. Ditambah lagi dengan angin puting beliung yang terjadi sebanyak 23 kali dan membuat 1.979 rumah rusak.

Ada pula 3 jembatan yang ambruk. Kerugian materi akibat bencana selama 2013 mencapai Rp 22 miliar.(pikiran-rakyat.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.