Sistem Belajar Satu Hari Penuh Butuh Guru yang Memadai

oleh -2 views
Ilustrasi.(prioritaspendidikan.org)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi.(prioritaspendidikan.org)
Ilustrasi.(prioritaspendidikan.org)

PRAKTISI pendidikan Itje Chodidjah mengatakan, untuk menerapkan sistem belajar satu hari penuh dibutuhkan kualitas guru yang memadai. Menanggapi saran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy yang menyarankan sekolah negeri mulai melirik full day school, Itje mengatakan dunia pendidikan adalah satu ekosistem, keputusan apa pun yang disampaikan oleh menteri pasti menggoncang ekosistem itu.
“Dan ekosistem itu yang perlu dipelajari satu per satu, terlebih dahulu tidak sekedar full day school serta merta lebih baik. Karena ketika di sekolah tidak diberikan proses pembelajaran yang tidak berguna, maka anak-anak akan menghabiskan waktunya dengan bermain-main, jika ingin waktunya dimanfaatkan dengan berguna, maka gurunya harus dilatih terlebih dahulu bagaimana mengelola full day school,” kata Itje, Senin (8/8).

Itje menambahkan, pendidikan bukan hanya perkara panjangnya waktu belajar, tapi bagaimana guru mengajar. Ia mengatakan, full day school justru dapat tidak produktif karena guru tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Itje mengatakan, dilihat dari jumlah guru yang memenuhi standar harapan pemerintah pun masih sedikit jumlahnya. Jika tidak memenuhi standar harapan pemerintah, tambah Itje, bagaimana guru dapat mengelola waktu dengan efektif dalam sistem pembelajaran satu hari penuh.

Ia menjelaskan, untuk membuat sistem belajar satu hari penuh dibutuhkan perubahan kultur. Karena sistem belajar satu hari penuh ini akan menyakut hajat hidup orang banyak. Karena itu, jika kebijakan ini benar-benar akan dilaksanakan oleh pemerintah, ia berharap sistem ini dirancang secara seksama.

Itje mengatakan, sistem ini lebih efektif di sekolah swasta berbayar yang manajemennya dikelola secara independen. Tentu akan jauh berbeda jika sistem ini diterapkan secara massif.

“Tapi bicara massif aspek-aspek geografis harus jadi pemikiran keputusan pusat. Karena yang menjalankan kan pemerintah daerah. Berarti ada unsur perubahan kebijakan dari pusat ke daerah. Ada unsur bagaimana membantu daerah menyelenggaran program ini tidak sesimple jam 12 ke 4,” katanya.

Sekolah-sekolah swasta, kata Itje, dengan satu manajemen, seperti Muhammadiyah atau Penabur sistem belajar satu hari penuh jauh lebih mudah diimplementasikan. Karena walaupun memiliki banyak sekolah, tapi masih dalam satu kultur yang sama.

“Pemimpinannya sudah satu kultur seperti satu negara kecil dalam aspek pendidikan, maka jauh relatif lebih mudah, tapi bayangankan dengan lima ratus lebih kabupaten,” katanya.( republika.co.id)