Spirit Muharram

Siap Belajar

Penulis : Siap Belajar
Editor : Asop Ahmad

0

0

Share and Care
06817263-f3e5-400c-9adb-acfbd0dc7a7c_1659161858

Pawai obor menyambut 1 Muharram 1444 Hijriah, Jumat (29/7/22) malam di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Oleh: Ateng Chozany Miftah

SIAPBELAJAR.COM - Waktu terus bergulir tanpa sesaatpun bisa diberhentikan. Tidak terasa, atas karunia Allah SWT alhamduillah kini kita sudah berada di bulan Muharram, Tahun Baru Hijriyah 1444 dalam keutuhan Iman dan Islam.

Kedudukan kalender (perhitungan waktu) Hijriyah sangat penting bagi umat Islam, karena kalender Hijriyah merupakan kalender yang dijadikan acuan kaitannya dengan waktu-waktu pelaksanaan beberapa syari’at Islam, seperti penentuan datangnya wajib haji, wajib puasa, haul zakat, ibadah Qurban dan lain sebagainya. Dasar perhitungan yang digunakan adalah peredaran bulan. Hal tersebut mengacu kepada firman Allah:

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”. (QS:Al-Baqarah:189)..

Itulah sebabnya tahun Hijriyah sering disebut dengan “Tahun Qomariyah”, berbeda dengan Tahun Masehi yang basis perhitungannya berdasar peredaran matahari sehingga disebut “Tahun Syamsiyah”.

Menurut tinjauan sejarah, sebutan Tahun Hijriyah, erat kaitannya dengan dijadikannya peristiwa hijrah Rasulullah s.a.w sebagai patokan waktu dimulainya sistim penanggalan. Hal tersebut diputuskan dalam Musyawarah para sahabat yang dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khathab. Salahsatu dasar atau alasannya, dikemukakan oleh Khalifah Umar bin Khathab selaku pimpinan musyawarah. Beliau mengungkapkan: “Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang bathil, jadikanlah ia sebagai patokan dimulainya penanggalan”.

Sedangkan dijadikannya bulan Muharram sebagai awal bulan, karena tekad dan semangat bahkan keputusan kaum Muslimin untuk melakukan hijrah (dari kota Makkah) kala itu, mulai muncul dan terjadi pada bulan Muharram yang diawali dengan “baiat”. Walaupun pelaksanaan hijrah secara menyeluruh baru terjadi pada pertengahan bulan Rabi’ul Awwal (Maulud), berati sekitar 2 bulan sejak baiat.

Dipilihnya perisistiwa hijrah sebagai patokan awal penanggalan, menunjukan serta memberi makna kepada kita betapa pentingnya nilai peristiwa atau momentum hijrah dikaitkan dengan aspek kehidupan beragama ummat Islam. 

Untuk itulah, maka setiap bertemu kembali dengan bulan Muharram memasuki Tahun Baru Hijriyah, kiranya penting bagi kita untuk menyegarkan kembali perenungan dan penghayatan serta perefleksian terhadap spirit  yang muncul di bulan Muharram dan terkandung dalam peristiwa hijrah tersebut saat itu.

Ungkapan alasan Khalifah Umar bin Khathab menjadikan peristiwa hijrah sebagai patokan awal perhitungan penanggalan diatas, kiranya merupakan salahsatu nilai makna hijrah yang penting kita renungkan serta kita hayati. Kalimat “menjadi pemisah antara yang benar dengan yang bathil” dapat kita maknai bahwa dalam peristiwa hijrah ada spirit yang sangat kuat dalam kalangan kaum muslimin saat itu untuk “meneguhkan sikap serta tekad beristiqomah dalam keimanan dan ke-Islaman”.  Walaupun kaum kafir dan musyrikin membenci bahkan mengancamnya”. Sikap peneguhan hati seperti yang tersirat dalam penggalan bacaan kalimah Takbir yang sering menggema setiap Idul Fitri atau Idul Adha tiba:

لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَلَانَعْبُدُ اِلَّا اِّيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

“Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam sekalipun orang-orang kafir dan musyrikin membencinya”

Inilah spirit pertama yang kiranya perlu kita evaluasi serta kita revitalisasi dalam jiwa kita setiap kali kita berjumpa kembali dengan bulan Muharram memasuki Tahun Baru Hijriyah,. Kita perkuat kembali tekad serta keteguhan hati untuk tetap istiqomah dalam keimanan dan ke-Islaman, ditengah-tengah semakin kuatnya tekanan peradaban dalam tatakehidupan yang kalau tidak diwaspadai banyak hal-hal yang dapat mendegradasi keistiqomahan kita dalam keimanan dan ke-Islaman.

Di samping spirit tersebut, ada spirit lain (yang kedua) yang juga perlu kita renungkan dan kita refleksikan ke dalam semangat keberagamaan kita. Yaitu spirit yang terkandung dalam harapan yang ingin dicapai oleh kaum Muslimin kala itu ketika memutuskan berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Seperti kita ketahui, ada kondisi umum yang dihadapi kaum muslimin dalam menjalankan kehidupan beragama di kota Makkah saat itu. Yaitu kondisi yang tidak kondusif, baik  untuk dapat menjalankan kehidupan beragama demikian pula untuk kepentingan Dakwah Islam. Hal tersebut terutama disebabkan oleh semakin meningkat serta massifnya tekanan-tekanan dari kaum kafir Quraisy kala itu. Baik berupa tekanan psikis demikian pula tekanan secara pisik, seperti diantaranya:

-  Dalam kurun waktu 13 tahun Rasulullah mendakwahkan Islam, selalu mendapat penentangan disertai tekanan-tekanan yang kuat dari kaum kafir Quraisy.

-  Semakin kejamnya perlakuan kaum kafir Quraisy terhadap umat Islam  bahkan terhadap diri Rasulullah sendiri, sampai pada puncaknya pimpinan kaum kafir Quraisy akan membunuh Rasulullah.

Sementara itu, kondisi di madinah dipandang lebih kondusif  untuk mendukung kehidupan beragama serta dakwah Islam, antara lain:

-  Di Madinah sudah banyak penduduk yang memeluk Islam;

-  Kondisi yang belum baik sehingga perlu dihijrahkan kepada kondisi yang lebih baik tersebut, boleh jadi masih ada Masyarakat Madinah yang sebelumnya sudah memeluk agama samawi,lebih mudah untuk menerima Islam;

-  Madinah yang berada di jalur perdagangan antara Yaman dengan Syam (sekarang Syuriah), memiliki letak geografis yang startegis dikaitkan dengan kepentingan dakwah Islam.

Kalau kita simpulkan dari latar belakang keputusan untuk berhijrah tersebut, inti spirit kedua ini tiada lain adalah “semangat untuk berpindah/berhjrah dari kondisi yang tidak baik ke kondisi yang lebih baik dikaitkan dengan kehidupan beragama”. Atas dua spirit utama dari berhijrah inilah, kiranya Allah menyebutkan dalam firman-Nya, bahwa orang-orang yang berhijrah karena Allah termasuk orang-orang yang ditinggikan derajatnya serta akan memperoleh kemenangan hidupnya.

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (QS:At-Taubah:20).

Sebagaimana spirit yang pertama diatas, spirit hijrah yang kedua inipun kiranya penting untuk dhidupkan dan direfleksikan ke dalam jiwa kita dalam rangka menjalankan kehidupan beragama.

Spirit untuk menghijrahkan diri kepada kondisi yang lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan beragama. Baik dalam dimensi tatahubungan hidup dengan Allah (hablun min-Allah), dengan sesama manusia (hablun min an-naas) demikian pula tatahubungan hidup dengan lingkungan alam semesta. Semangatnya mengacu kepada ungkapan sahabat Rasulullah s.a.w, Ali bin Abi Thalib r.a.:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ اَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلُ اَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ اَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُنُوْنَ

“Barangsiapa yang hari sekarangnya lebih baik dari hari kemarinnya maka dia termasuk orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang hari ininya sama saja dengan hari kemarinnya maka dia termasuk orang merugi. Dan barangsiapa yang hari ininya lebih buruk dari hari kemarinnya maka dia termasuk orang yang terlaknat”.

Bahkan mungkin masih banyak pada diri kita. Mungkin berkaitan dengan tatahubungan hidup  kita dengan Allah (hablun min-Allah) seperti tingkat ketaqwaan kita, ibadah kita, kecintaan kita, taqarrub kita kepada Allah dan sebagainya. Mungkin pula kekurangan-kekurangan dalam dimensi tatahubungan hidup kita degan sesama manusia (hablun min an-naas), demikin pula dalam dimensi tatahubungan hidup kita dengan lingkungan alam.

Untuk itulah, ada baiknya di bulan Muharram sebagai awal Tahun Baru Hijriyah ini, kita lakukan muhasabah (instrospeksi diri) disertai semangat dan tekad kuat untuk menghijrahkan diri menuju kepada kondisi yang lebih baik bahkan kesempurnaan guna meraih kemenangan di sisi Allah SWT. Setidak-tidaknya masuk kedalam katagori orang yang “raabihun” (yang beruntung) sebagaimana dimaksud dalam fatwa Sayyidina Ali bi Abi Thalib diatas. Semangatnya,  “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin  (yaumi khairan min amsi)!.

Bisa berubahkah kita? Jawabannya terpulang kepada sejauhmana niat, tekad dan upaya kongkrit kita, sebagaimana diingatkan Allah dalam firman-Nya.

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan  yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS:Ar-Ra’d:11).

Dua spirit atau semangat yang telah kita bahas dimuka, merupakan spirit yang melatarbelakangi serta memotivasi keputusan berhijrah (spirit prahijrah). Ada spirit  yang lain yang kiranya perlu pula disegarkan kembali perenungannya dalam memasuki bulan Muharram serta menyambut Tahun Baru Hijriyah ini.

Yaitu spirit pasca hijrah yang dipertunjukkan oleh Rasulullah ketika beliau dengan segenap kaum Muslimin yang terdiri dari kaum Anshar (kaum Muslimin yang sudah berada di Madinah) dan kaum Muhjirin (pendatang dari Makkah), mulai membangun tatakehidupan di Madinah..

Sesampainya Rasulullah SAW bersama kaum muslimin berhijrah ke Madinah, di kota Madinah telah bermukim berbagai penduduk. Sebagian merupakan masyarakat Arab Muslim dan sebagian lainnya adalah masyarakat Yahudi yang mengungsi dari Palestina untuk menghindari kekejaman bangsa Romawi yang menguasai wilayah Palestina pada tahun 70 Masehi.

Untuk membangun dan membina kerukunan hidup bermasyarakat dan beragama diantara berbagai golongan masyarakat yang ada di Madinah tersebut, Rasulullah membuat perjanjian dengan kaum Yahudi yang dikenal dengan nama “Perjanjian Madinah” yang isi pokoknya antara lain:

1. Penduduk Madinah, baik bangsa Arab maupun Yahudi bebas mengeluarkan pendapat, dan masing-masing berhak menghukum orang-orang yang berbuat kerusakan dan memberikan jaminan keamanan bagi yang patuh.

2. Masing-masing golongan bebas untuk melakukan ibadah tanpa saling mengganggu.

3. Antara golongan Madinah Muslim dengan golongan Yahudi harus saling bantu-membantu.

4. Saling mengadakan kerjasama dalam mempertahankan Madinah jika diserang musuh.

5. Segala perselisihan dan permasalahan yang timbul diserahkan kepada Rasulullah sebagai pemimpin tertinggi.

Kita menangkap ada “spirit kebersamaan dan hidup berdampingan secara damai” dalam isi perjanjian tersebut. Hidup saling mengakui dan menerima, saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai, saling bertoleransi, satu sama lain. Mampu hidup bersama dan bersatu dalam keanekaragaman.

Inilah sisi lain dari spirit Muharram yang perlu kita renung ulang dan kita gelorakan serta kita aplikasikan dalam tatakehidupan, sebagai perwujudan dari “Islam Rahmatan Lil-‘Aalamiin”. Prinsip membangun hidup berdampingan secara damai ini, diingatkan oleh Allah sebagaimana tersirat dalam firman-Nya.  .

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. (Q:Al-Hujurat:13)

Dari kemampuan dan kemauan saling kenal-mengenal satu sama lain, diharapkan dapat saling faham-memahami satu sama lain. Dari kemampuan dan kemauan saling faham-memahami satu sama lain diharapkan dapat saling mengakui dan menerima keberadaan (eksistensi) satu sama lain.

Dari kemampuan serta kemauan saling mengakui dan menerima eksisitensi satu sama lain diharapkan dapat saling hormat-menghormati dan harga–menghargai satu sama lain. Dari kemauan dan kemampuan saling harga-menghargai satu sama lain diharapkan dapat saling bertoleransi satu sama lain.

Puncaknya mau dan mampu hidup berdampingan secara damai dalam semangat persaudaran, kebersamaan, persatuan serta kerukunan. Mau dan mampu hidup menjadi satu dalam keanekaragaman.

Betapa indahnya ketika spirit Muharram atau spirit hijrah seperti ini dapat kita aplikasikan dalam tatakehidupan kita. Baik dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kitapun bangga ketika kita mampu menunjukkan serta meyakinkan kepada dunia kehidupan manusia, bahwa kehadiran Islam serta ummat Islam adalah “Rahmatan Lil ‘Aalamiin” bukan “Ancaman Lil ‘Aalamiin”. Insya Allah kita harus bisa!.

Demikian sekapur sirih Renungan Spirit Muharam kali ini, semoga ada manfaatnya.

Wallaahu A’lamu bishshawab.

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

06817263-f3e5-400c-9adb-acfbd0dc7a7c_1659161858

Share and Care

Spirit Muharram

Oleh: Ateng Chozany MiftahSIAPBELAJAR.COM - Waktu terus bergulir tanpa sesaatpun bisa diberhentikan. Tidak terasa, atas karunia Allah SWT alhamduillah kini kita sudah berada di bulan Muharram, Tahu
1659099567864_1659099703

Religi

Asal Usul Dibuatnya Kalender Hijriah oleh Khalifah Umar Bin Khattab

SIAPBELAJAR.COM - Muharram merupakan bulan pembuka dalam kalender Islam, Muharrram juga merupakan salah satu bulan yang di antara empat bulan lainnya diistimewakan dalam Al-Quran. ”Sesungguhnya
1659068034186_1659068140

Religi

Kapan Doa Akhir Tahun Dibaca? Simak Penjelasannya

SIAPBELAJAR.COM - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Dirjen Bimas Kemenag) Kamarrudin Amin, mengungkapkan tahun baru Islam atau 1 Muharram 1444 Hijriah jatuh pada S