Sekolah Sehari Penuh tidak Bisa Diseragamkan ,Lebih Baik Membuat Model Pendidikan

oleh -3 views
Pemerhati pendidikan Tasikmalaya, Drs. H. Yayan Tahyan (Asop Ahmad/Siap Belajar)
Arrief Ramdhani

 

Pemerhati pendidikan Tasikmalaya, Drs. H. Yayan Tahyan (Asop Ahmad/Siap Belajar)
Pemerhati pendidikan Tasikmalaya, Drs. H. Yayan Tahyan (Asop Ahmad/Siap Belajar)

TAK lama setelah dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Efendi melontarkan wacana sekolah sehari penuh (full day school). Sontak, wacana itu menimbulkan pro-kontra. Nyaris semua media massa menjadikannya sebagai laporan utama.

Sang menteri berharap, dengan waktu yang lebih lama di sekolah, siswa mendapat tambahan jam untuk belajar pendidikan karakter dan budi pekerti dari para guru. Namun, alasan itu tidak serta merta bisa diterima kalangan luas.

“Jika memang belum dapat dilaksanakan, saya akan menarik rencana itu dan mencari pendekatan lain. Masyarakat harus mengkritik gagasan ini, jangan keputusan sudah saya buat kemudian merasa tidak cocok.” kata Muhadjir dalam konferensi pers di restoran Batik Kuring, Jakarta, 9 Agustus 2016.

Pemerhati pendidikan Tasikmalaya, Drs. H. Yayan Tahyan, yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, menyambut baik pembatalan penerapan sekolah sehari penuh. “Apapun kebijakannya, apalagi menyangkut kehidupan berbangsa, semestinya melalui analisa yang matang,” tegasnya.

Sekolah sehari penuh, sambungnya, bisa diterapkan setelah sumber daya manusia, sarana fasilitas, dan pemerintah sudah benar-benar siap. Meskipun kebijakan tersebut bagus, tetapi harus hasil dari analisa yang matang.

Dari realitas sosiologis, Indonesia memiliki aneka ragam dan budaya. Sementara pada sisi ekonomi, kebijakan sekolah seharian itu berdampak kepada peningkatan kebutuhan. Banyak hal yang harus dijadikan cermin. Tidak bisa diseragamkan. Karakter tiap daerah berbeda-beda.

Selain itu, apakah ada ruang untuk istirahat siang dengan baik atau tidak. Termasuk juga tempat bermain dan tempat olahraga yang memadai untuk relaksasi agar anak tidak jenuh. Mereka membutuhkan waktu untuk istirahat dalam suasana yang rileks dan tenang. Belum lagi soal guru, kapan mereka punya waktu dengan keluarganya, dan beraktivitas sosial di masyarakat.

Menurutnya, daripada membuat kebijakan baru seperti sekolah sehari penuh, sang menteri lebih baik membenahi kebijakan delapan standar pendidikan nasional yang dibutuhkan masyarakat dalam sistem pendidikan di Indonesia.

“Yang harus dilakukan pemerintah adalah membuat model-model agar bisa dipilih oleh satuan pendidikan untuk diterapkan. Tidak usah mengatur harus seragam. Tetapi membuat pilihan model pendidikan untuk membangun generasi masa depan yang berkarakter. Sekolah sehari penuh itu adalah alternatif pendidikan yang ditawarkan. Bisa diterapkan jika kondisinya memungkinkan,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Pak Haji itu kini disibukkan dengan berbagai aktivitas yang mengarah pada perkembangan dan kemajuan pendidikan. Salah satunya membuka toko gratis yang menyediakan seragam sekolah dan perlengkapan belajar. Atas dedikasinya itu ia terpilih sebagai salah satu tokoh inspiratif Indonesia versi Telkomsel 2016. (Asop Ahmad/Siap Belajar)