Sekolah Jadi Lokasi Penyebaran Kekerasan Terbanyak

oleh -3 views
Ilustrasi (prioritaspendidikan.org)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (prioritaspendidikan.org)
Ilustrasi (prioritaspendidikan.org)

SEKOLAH menjadi lokasi penyebaran kekerasan terbanyak. Meskipun bibit kekerasan itu ditanam di keluarga. Sehingga, sekolah menjadi area yang strategis untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian.

“Sejumlah penelitian, menunjukan jumlah kekerasan di sekolah lebih banyak dibandingkan di rumah. Meskipun, sebenarnya benih kekerasan itu terbentuk di rumah,” diungkapkan Co-Founder Peace Generation Irfan Amalee dalam peluncuran 12 modul nilai dasar perdamaian di SMP 8 Muhammadiyah Jalan Kadipaten Raya, Senin, 25 Juli 2016.

Menurut Irfan, perbandingan angka kekerasan di sekolah dengan rumah cukup tinggi. Kekerasan domestik, masih dalam kisaran 30.000 kasus. Sedangkan kekerasan di sekolah, lebih dari 900.000 kasus. Irfan menyebutkan kekerasan di rumah menyebabkan anak jadi korban. “Tapi kemudian, di sekolah, anak menjadi pelaku kekerasan,” katanya didampingi Co-Founder Peace Generation lainnya Erik Lincoln.

Kekerasan di sekolah itu, lanjut Irfan, semakin banyak karena tidak ada pelajaran di sekolah yang khusus membahas kekerasan. Oleh karena itu, Peace Generation menilai sekolah menjadi area yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian. Di sekolah, siswa harus belajar dan menerapkan prinsip-prinsip perdamaian.

Peace Generation, kata Irfan, membuat 12 modul yang berisikan nilai-nilai dasar perdamaian. Setiap bulan, dipelajari satu modul. Sehingga dalam setahun, modul itu sudah selesai dipelajari.

Untuk SD sudah diterapkan sejak 2008 yang diperuntukkan kelas 5-6. Sedangkan untuk SMP, diterapkan di tiga kelas yaitu kelas 7,8, dan 9. “Ke depan kami ingin dipelajari oleh siswa baru,” katanya.

Dikatakan Irfan, modul itu dibuat pada 2007 untuk mempromosikan nilai-nilai perdamaian dalam bentuk modul kreatif. Telah disiapkan modul itu untuk berbagai tingkatan pendidikan dasar dan menengah. Juga telah tersedia terjemahannya.

Bahkan, sebelum menerapkan modul tersebut, guru di sekolah yang bekerja sama telah mengikuti pelatihan pengajaran kreatif selama tiga hari. “Pada prinsipnya, kita mengajarkan nilai-nilai perdamaian pada orang lain. Untuk siswa yang telah selesai mengikutinya, akan menjadi agent of peace,” ucap Irfan.( pikiran-rakyat.com)