Sekolah Inklusif Antarkan Siswa ABK menjadi 10 Besar di Kelasnya

oleh -7 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

RUANG sumber belajar di SDN Kutorenon 02 Kabupaten Lumajang, memiliki banyak koleksi alat permainan untuk ABK. Ada juga dua guru dari sekolah luar biasa (SLB) yang diperbantukan untuk mendampingi ABK dalam pembelajaran serta memanfaatkan alat permainan edukatif (APE) di ruang sumber belajar.

Henry Syaifullah SPd kepala SDN Kutorenon 02, sadar betul akan kondisi beberapa siswa yang memiliki kebutuhan khusus dan perlu “disentuh” dengan strategi dan pendekatan yang berbeda dari siswa pada umumnya. “Setelah mendapatkan pelatihan dari USAID PRIORITAS dan menerapkan pembelajaran PAKEM di kelas, saya merasa perlu bantuan guru pembimbing khusus agar siswa-siswa ABK dapat mengikuti proses belajar yang menyenangkan dan sesuai kebutuhannya. Itulah kenapa saya, menjalin kerjasama dengan SLB untuk melayani ABK,” kata pak Henry.

Sekolah ini mempunyai 10 ABK (tiga perempuan dan tujuh laki-laki) dengan jenis kebutuhan khusus berupa gangguan pendengaran, minder, dan terbanyak adalah lambat belajar. Untuk menangani 10 ABK tersebut, kepala sekolah dan guru melaksanakan beberapa strategi seperti di bawah ini:

  • Sekolah bekerjasama dengan SLB dan mengundang dua guru SLB yang berfungsi sebagai guru pendamping khusus (GPK) dengan jadwal kedatangan seminggu dua kali, yaitu pada hari Rabu dan Kamis dengan tugas mendampingi ABK di dalam pembelajaran di kelas, dan belajar khusus di ruang sumber.
  • Guru kelas bersama GPK melakukan pengamatan atau penilaian sederhana untuk mengetahui status ABK terkait dengan kekurangan dan kelebihannya sehingga ditemukan strategi pembelajaran yang sesuai kebutuhan  ABK.
  • Bekerja sama dengan komite sekolah paguyuban kelas untuk membantu guru dengan melakukan piket memonitor perilaku ABK di dalam dan di luar kelas serta membantu guru dalam mencarikan solusi untuk mengatasi permasalahan siswa.
  • Paguyuban kelas juga membantu guru untuk melakukan bedah kelas dan menyiapkan/membuat media belajar yang sederhana agar lebih sesuai dengan kebutuhan proses belajar siswa.
  • Membuat buku penghubung antara sekolah (guru) dengan orang tua siswa yang berfungsi sebagai alat bantu monitoring perilaku siswa, tugas sekolah / PR.
  • ABK diberi kesempatan mengembangkan bakat dan keterampilannya (seni, olah raga, membatik, membuat asbak, puisi, tari, drama, dan karawitan)

Menurut Ibu Iin Diniyawati dan Ibu Dini Harjalusiana, guru dari SLB yang berperan sebagai guru pendamping khusus, kerja sama antara komite sekolah, guru, paguyuban kelas, dan orang tua sangat membantu mendorong perkembangan ABK. Di kelas, paguyuban kelas juga memiliki jadwal piket untuk mendampingi siswa dalam pembelajaran.

Salah satu keberhasilan pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah ini adalah berhasil membuat Aros Ta’ala, salah seorang siswa ABK menjadi siswa berprestasi. Dia adalah siswa pindahan yang sudah beberapa kali tidak naik kelas. ”Setelah dilakukan asesmen, kami menemukan bahwa Aros memiliki kelemahan pada pendengarannya, maka kami memindahkan tempat duduknya di depan dan dekat dengan meja guru. Jadi dia bisa membaca gerak bibir guru saat mengajar. Alhamdulillah perkembangannya sangat bagus. Pada kenaikan kelas, dia berhasil masuk dalam kelompok 10 besar,” papar Ibu Titin Hana Wahyuni, guru kelas IV Aros Ta’ala.

Keberhasilan dalam mendampingi beberapa ABK membuat komite sekolah sangat bangga dan mendukung dengan berbagai upaya untuk mencari bantuan agar proses pembelajaran semakin baik dan makin banyak ABK yang bisa dilayani di sekolahnya.(prioritaspendidikan.org)