Sekolah Harus Paham Bagaimana Mengelola Krisis

oleh -5 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

PERKEMBANGAN teknologi yang memudahkan berbagi informasi menjadi tantangan bagi sekolah sebagai institusi pendidikan dan bisnis untuk memahami fungsi dan peran dari hubungan masyarakat sebagai penjaga citra dan mediator komunikasi.

Hal ini menjadi kesimpulan dari seminar bertema ‘Peran Humas Sekolah dalam membangun Citra dan Mengatasi Krisis di Sekolah’ yang digelar Universitas Darma Persada, Rabu, (17/2/2016) yang menghadirkan praktisi humas Dody Rochadi dan Dian Agustine Nuriman dan diikuti seratusan Wakil Kepala Sekolah Bimbingan Konseling (BK) dan Wakil Kepala Sekolah Bagian Kehumasan dari Jakarta Timur dan Bekasi.

banner 728x90

Menurut Rektor Universitas Darma Persada Dr. Dadang Solihin seminar yang digelar hari ini bertujuan untuk memberikan solusi terhadap tantangan yang dihadapi institusi pendidikan yang kompleks terkait komunikasi dan bisnis pendidikan di tengah masyarakat yang makin terbuka.

Menurut praktisi kehumasan Dian Agustine Nuriman saat ini fungsi kehumasan di sekolah masih terabaikan dikarenakan posisinya yang tidak sentral padahal ketika krisis terjadi peran humaslah yang berada di garis terdepan menjaga citra institusi berhadapan dengan media dan masyarakat.

”Saat ini yang terjadi sekolah menempatkan humas secara mendadak, padahal ketika terjadi krisis di sekolah, individu yang menjadi humas tidak saja harus paham berkomunikasi namun harus mengerti kondisi sekolah dengan sangat baik,” ujar Direktur Nagaru Communications.

Dalam kesempatan yang sama praktisi humas Dody Rochadi menegaskan semua organisasi termasuk sekolah rentan terhadap krisis jadi tidak ada alasan bagi sekolah untuk tidak memiliki kesiapan dalam menghadapi krisis.

”Seluruh institusi yang berhubungan dengan masyarakat harus peka dan paham menangani krisis. Sementara untuk penanganan krisis yang terjadi di sekolah haruslah melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari guru hingga orang tua murid,” papar Dody Rochadi.

Pemahaman terhadap suatu krisis yang tidak ditangani secara terbuka akan berakibat buruk pada institusi yang bersangkutan. Umumnya, institusi tanpa pemahaman komunikasi yang baik umumnya akan berusaha menutupi krisis yang melandanya, atau berupaya menanganinya secara tertutup yang akibatnya justru akan mengundang lebih banyak kecaman.

Sebaliknya, apabila suatu institusi mampu mengatasi krisis yang melanda dengan baik secara terbuka, mampu menerima kritikan yang dituju kepada institusi dengan lapang dada, kemudian berusaha mencari jalan keluar atas permasalahan yang terjadi, institusi tersebut akan lebih mudah mendapatkan kembali kepercayaan publik.

Kedua pembicara mencontohkan kondisi-kondisi krisis yang sungguh mengagetkan namun sungguh-sungguh terjadi di institusi pendidikan seperti siswa yang mengalami kecelakaan, bencana, keracunan massal, kesurupan, guru bunuh diri hingga aksi kekerasan berujung kematian di sekolah.

”Tanpa pernah mempersiapkan institusi sekolah dengan kondisi-kondisi yang hadir mendadak justru kepanikan yang melanda individu penanggung jawab di institusi pendidikan dan menimbulkan tindakan tak terarah bahkan justru memperburuk kondisi yang ada. Terutama bagaimana mengatasi krisis ke dalam dan ke luar institusi yang tertimpa krisis tersebut,” ujar Dody.

Untuk itu, menurut Dian Agustine Nuriman, diperlukan bagaimana mengelola guru, siswa hingga staf menghadapi kemungkinan krisis yang akan terjadi. Termasuk bagaimana pihak sekolah menghadapi media secara cerdas sehingga tidak memperburuk situasi.

 (pikiran-rakyat.com)