Segarnya Minuman Kunyit Made In SDN Pasirjambu

oleh -2 views
Segarnya Minuman Kunyit Made In SDN Pasirjambu
Arrief Ramdhani
Segarnya Minuman Kunyit Made In SDN Pasirjambu
Segarnya Minuman Kunyit Made In SDN Pasirjambu

SENIN pagi, 28 September silam, di halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pasirjambu, Maniis, sejumlah siswa berderet. Wajah-wajah yang tampak sumringah itu, sepertinya tak sabar menerima secarik kertas berharga. Secarik kertas itu bernama piagam penghargaan.

Ya, saat apel pagi itu mereka memang menerima piagam penghargaan dari pihak sekolah. Para siswa yang terdiri dari kelas 4 hingga kelas 6 itu, patut mendapat penghargaan atas keikutsertaan mereka mengolah kunyit menjadi minuman serbuk yang menyehatkan. Mereka terlibat langsung rangkaian proses dari mulai menanam kunyit, hingga jenis tumbuhan itu menjadi minuman serbuk siap seduh.

“Kegiatan memproduksi minuman serbuk kunyit dimulai sejak 2010 silam,” Arnano, Kepala Sekolah SDN Pasirjambu, mengawali cerita. Program tersebut, terang dia, masuk dalam mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan Seni budaya dan Keterampilan (SBK). Ini sebagai pengejawantahan dari pendidikan berbasis keunggulan lokal yang saat ini tengah gencar disuarakan di Purwakarta.

Proses produksi minuman serbuk kunyit di SDN Pasirjambu dilakukan dengan cara manual dan sangat sederhana. Jangan membayangkan terdengar suara gemuruh mesin menggiling kunyit, atau suara mesin produksi lainnya. Yang terdengar adalah suara saat kunyit diparut dengan parutan yang terbuat dari kaleng bekas. Dan suara saat gumpalan kristal kunyit yang telah direbus, ditumbuk dengan menggunakan alu. Arnano mengungkapkan, proses secara manual memang sengaja dipertahankan.  “Tujuannya, agar para siswa lebih memahami bahwa dengan piranti yang ada di sekitar, kita masih mampu memproduksi,” ujarnya.

Lain hal jika kelak SDN Pasirjambu sudah memproduksi minuman serbuk kunyit secara besar-besaran. Tentu diperlukan alat produksi modern demi efisiensi dan efektifitas. “Namun demikian, proses secara manual yang selama ini dilaksanakan, tak perlu ditinggalkan,” imbuh Arnano. Hal senada dlontarkan guru pembimbing Jejen Jaenudin. Dia menjelaskan, nantinya, piranti modern seperti mesin memang diperlukan untuk mengejar target produksi, namun kami sebagai pembimbing tetap harus mengenalkan kepada siswa tentang proses produksi secara tradisional,” ujar Jejen.

Jejen berobsesi, kelak SDN Pasirjambu akan menjadi sentra produksi minuman serbuk kunyit, “Jika terus dipublikasikan, tak menutup kemungkinan sekolah kami akan menjadi tujuan studi banding bagi sekolah dari daerah lain, khusus tentang pembuatan minuman dari kunyit,” tutur Jejen. Untuk memulai produksi dengaan piranti mesin, Jejen mengaku belum bisa mengira-ngira kapan hal tersebut bisa terealisasi.

 

“Kami terkendala faktor dana,” ujarnya. Hal itu juga diungkapkan Arnano. Menurutnya, kendala utama untuk memkproduksi minuman kunyit secara besar-besaran dan memulai menggunakan mesin, adalah soal ketiadaan dana. “Rasanya tak berlebihan jika kami berharap pemerintah daerah membantu dengan sokongan dana,” kata Arnano.

Tiga Potensi

Arnano optimistis program pendidikan berbasis keunggulan lokal yang dipraktikkan di sekolah yang dipimpinnya itu, bakal mencetak banyak wirausahawan muda, “Saya ingin siswa lulusan SDN Pasirjambu mahir membuat minuman serbuk kunyit. Mereka sudah membekali diri jika ingin terjun ke bidang wirausaha,” imbuh Arnano.

Kegiatan memproduksi minuman serbuk kunyit dilaksanakan sekali dalam seminggu. Siswa yang terlibat terdiri dari tiga kelas yang dibagi menjadi dua rombongan belajar (rombel). Dari dua rombel tersebut dipecah menjadi enam kelompok. Masing-kelompok memproduksi 12 kg.

Mengomentari praktik pembuatan minuman serbuk kunyit di SDN Pasirjambu, Kepala UPTD Maniis Babang Subarna berharap sekolah lain, baik di Maniis maupun di kecamatan lain, bisa mengikuti jejak SDN Pasirjambu. Dia menjelaskan, selain SDN Pasirjambu, ada sekolah lain di kecamatan tersebut yang sudah menjalankan pendidikan berbasis keunggulan lokal dengan lancar.

“Ada dua sekolah lain yang memiliki potensi sama, masing-masing memproduksi anyaman lidi dan kerupuk ikan nila,” terang Babang. Dia bersyukur karena kendati Maniis adalah kecamatan terujung yang jauh dari pusat kota, namun memiliki potensi yang menggembirakan.

Sama seperti yang diungkapkan Arnano, Babang juga berharap pemerintah daerah memberi atensi lebih, utamanya dalam hal sokongan materi. “Nantinya dana tersebut digunakan untuk pembelian alat produksi,” pungkas Babang.(tbs/siapbelajar Purwakarta)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.