SD Sumber Kulon 1 Gelar Lomba Fashion

oleh -53 views
MURID-murid SD Sumber Kulon 1, Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka sedang mengikuti pagelaran fashion di halaman sekolahnya. Kegiatan tersebut guna memperingati Hari Kartini. Kegiatan diikuti 50 orang murid mulai kelas I hingga kelas V , Selasa (21/4/2015) .(pikiran-rakyat.com)
Arrief Ramdhani
MURID-murid SD Sumber Kulon 1, Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka sedang mengikuti pagelaran fashion di halaman sekolahnya. Kegiatan tersebut guna memperingati Hari Kartini. Kegiatan diikuti 50 orang murid mulai kelas I hingga kelas V , Selasa (21/4/2015) .(pikiran-rakyat.com)
MURID-murid SD Sumber Kulon 1, Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka sedang mengikuti pagelaran fashion di halaman sekolahnya. Kegiatan tersebut guna memperingati Hari Kartini. Kegiatan diikuti 50 orang murid mulai kelas I hingga kelas V , Selasa (21/4/2015) .(pikiran-rakyat.com)

SEKOLAH Dasar (SD) Sumber Kulon 1, Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka gelar lomba fashion bagi kelas I hingga kelas V sebagai acara memperingati Hari Kartini, Selasa (21/4/2015) di sekolahnya.

Menurut keterangan salah seorang guru di sekolah tersebut Siti Mutmainah, pagelaran busana kebaya bagi murid-murid di sekolahnya tersebut guna mengingatkan kembali peran R A Kartini pada dunia pendidikan. Serta sikap Kartini yang ramah dan santun terhadap semua orang.

banner 728x90

“Perjuangan Kartini kami jelaskan sebelum mereka pentas, meski sebetulnya pada pelajaran sejarah juga ada. Kalau pagelaran sendiri dilakukan karena kalau tanggal 21 peringatan hari kartini identik dengan baju kebayanya makanya kami gelar peragaan busana kebaya dan rok,” kata Siti.

Tempat lomba busana yang diselenggarakans ekolah cukup sederhana, tak ada panggung megah bahkan hanya dipelataran sekolah diatas paving bloc, namun demikian suasananya cukup meriah, maklum yang hadir dis ekolah juga tak hanya murid-murid peserta lomba namun juga orang tua murid dan tukang rias serta masyarakat umum. Tak heran penonton juga cukup banyak. Malah keramaian ini dimanfaatkan pedagang makanan untuk berjualan.

Dari 50 peserta lomba ini pakaiannya cukup beragam, ada yang mengenakan kebaya sunda, kebaya jawa dan modern, ada juga yang mengenakan pakaian adat dari suku Minahasa dan minangkabau lengkap dengan hiasan di bagian kepalanya. Mereka berlenggak lenggok di depan sekolah ala pragawati.

Tukang rias Casiyah mengaku nyaris kewalahan memenuhi permintaan orang tua murid sekolah tersebut, maklum di desa itu hanya ada dirinya yang bekerja sebagai tukang rias. “Saya dari pagi mendandani mereka bersama teman saya yang baisa membantu setiap kegiatan, bersyukur bajunya mencukupi sesuai permintaan mereka,” ujar Casiyah.

Biaya mendandani setiap orangnya berpariasi tergantung baju dan riasan yang dikenakan, tarifnya mulai Rp 50.000 hingga Rp 100.000 yang paling mahal.

Astri salah seorang orang tua murid mengaku gembira dengan adanya kegiatan tersebut, tak peduli berapa nilai uang yang dikeluarkan. Pagelaran ini menurut dia sebuah kenang-kenangan bagi anaknya, karena kelak setelah dewasan selalu teringat dengan kegiatan yang mengesankan di sekolah seperti yang pernah dialaminya tempo dulu.

“Kegiatan seperti ini akan sangat berkesan bagi murid-murid. Jadi ya bagus walapun harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli atau menyewa baju dan merias ke salon,” kata Astri yang anaknya masih duduk di bangku kelas III.(pikiran-rakyat.com)