Satu Rayon untuk Titik Simpan Logistik UN

oleh -4 views
www.mediaindonesia.com
Arrief Ramdhani
www.mediaindonesia.com
www.mediaindonesia.com

MULAI tahun ini,Kota Bandung akan menerapkan system satu rayon  untuk menjadi  titik simpan terakhir  logistik Ujian Nasional (UN).Meski begitu,Dinas Pendidikan Kota Bandung meyakini   jika pada proses  transisi  dari  penghapusan  subrayon  itu tidak  akan menghadapi  hambatan  berarti.

Dikoordinasikan juga  oleh bidang,standby  pukul 4.30.Kepala Sekolah yang membawa soal,jika tidak  yang mewakili  membawa surat, dan yang didahulukan yang terjauh,”ujar Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung Dadang Iradi, sesuai diskusi  Pendidikan di Redaksi Pikiran Rakyat,Selasa (8/4/2014).

Sebelum penerapan subrayon ditunjukan agar logistik UN bisa terbagi atas lima  wilayah  sebagai titik simpan terakhir  dengan harapan mendekatkan  jarak sekolah  dengan pusat logistik.Namun, kebutuhan  pembiayaan  subrayon dinilai  memberatkan  pihak sekolah,sekaligus  masyarakat  yang harus mengeluarkan biaya tambahan.APBN tidak mengalokasikan  untuk kebutuhan subrayon.

Dadang menjelaskan,distribusi soal dan LJUN dengan satu  rayon  masih bisa memenuhi   kebutuhan sekolah  dengan memperhitungkan   jarak  dari waktu tempuh menuju pemusatan rayon di SMAN 8  Bandung dan SMKN  3 Bandung.Menghadapi  adanya penerapan  satu rayon  sebagai titik  pemusatan  logistik UN, Pemerintah  Kota Bandung  juga mengalokasikan  dana tambahan  sejumlah komponen  yang tidak terjamin  oleh APBN.”Tahun sekarang kita bentuk  satu titik rayon.Kita fasilitasi  karena di situ  ada  beberapa kebutuhan yang tidak difasilitasi  APBN,seperti piket malam.Sambil  jagakan sambil koordinasi,Bantuan APBD  ini  untuk  menutup pos-pos belanja  yang tidak difasilitasi  pusat,”ujarnya.

Sejumlah daerah di Jabar  masih memerlukan  penerapan subrayon.Sekretaris  Panitia Pengawas UN Provinsi Jawa Barat,Sardin  mengatakan,di  beberapa  wilayah  titik simpan  terakhir  ditujukan  agar   memudahkan  sekolah  mengambil  kebutuhan  UN.Salah satu daerah  yang masih  membutuhkan  titik simpan terakhir  dengan sitem  subrayon  yakni Kabupaten Garut  dengan kondisi geografis  cukup menyulitkan  distribusi  soal  dan LJUN.

Pengawasan ruangan

Ketua  Asosiasi  Kepala Sekolah  Indonesia  Cucu  Saputra  menuturkan,pemerintah  daerah juga  perlu menambahkan apresiasi  bagi pengawas  ruangan  yang bertugas  saaat UN.Para pengawas  ruangan UN  yang berasal dari  kalangan  guru  dengan  system silang  sekolah  itu hanya  diberi  Rp.50.000  per   hari  untuk mengawasi  dua mata pelajaran.Dana  tersebut berasal dari APBN.

Hal itu  bertujuan agar  pelaksanaan  UN yang menjadi  tanggung jawab  pemerintahan  tidak perlu lagi  melibatkan  partisipasi masyarakat.Sebab,integritas  guru saat berjibaku  dengan masalah  jarak domisili  mereka  dinilai cukup tinggi.

“Sekolah terbebani untuk memberi  tambahan penggantian biaya  transportasi  guru dan menyediakan konsumsi karena alokasi  honor  untuk pengawa silang sangat kecil,” katanya.”(Pikiran Rakyat)

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
                                                                                                      Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.