Ridwan Kamil Klaim 98% PPDB Aman

oleh -4 views
Ilustrasi PPDB
Arrief Ramdhani
Ilustrasi PPDB
Ilustrasi PPDB

WALI Kota Bandung Ridwan Kamil menyatakan 98 persen Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kota Bandung sudah terpenuhi sesuai prosedur. Sementara sisanya akan segera diproses.
Hal ini disampaikan Ridwan Kamil setelah menggelar rapat pleno bersama jajaran Muspika Kota Bandung, Kamis (10/7/2014) sore. Untuk kuota warga miskin, kata dia, saat ini sudah sesuai dengan peraturan walikota, yakni 20 persen.

“PPDB seperti yang sudah disepakati secara umum 97-98 persen nggak ada masalah, artinya jalur normal. Nah yang 2-3 persen tadi dibahas, contohnya yang miskin ternyata belum tertampung semua. Kita putuskan semua harus masuk, waktu dihitung ternyata yang miskin ini alhamdulillah di bawah 20 persen, jadi memenuhi aturan perwal yakni anak miskin yang ditampung jangan lebih dari 20 persen,” bebernya.

Pria yang akrab disapa Emil itu melanjutkan, jika saat ini masih ada bangku kosong, pihak sekolah harus tetap menutup pendaftaran, dan bangku kosong tersebut jangan sampai digunakan.

Dia mengatakan, bangku kosong itu untuk mengantisipasi warga yang menggunakan mekanisme pindah sekolah.

Jadi, sambung Emil, apabila ada warga yang ingin masuk ke sekolah tersebut maka bisa diberi kuota bangku kosong, namun sebagai syarat utamanya yaitu sudah menempuh pendidikan selama satu tahun di sekolah pertamanya.

Emil menambahkan, kebanyakan masalah yang muncul saat PPDB adalah banyaknya warga yang protes karena nilai UN calon siswa lebih kecil daripada passing garde. Mereka lalu berargumentasi ingin diberi dispensasi agar langsung masuk.

Padahal, Emil sudah memberikan intensif untuk satu regional, yakni 1,36 untuk SD ke SMP dan 1,15 dari SMP ke SMA. Namun, meski sudah ditambah insentif, sitematis seleksi untuk masuk ke sekolah tetap berlaku.

“Kan kita sudah memberikan insentif yang rumahnya dekat dari SD ke SMP sebesar 1,36 poin, SMP ke SMA 1,15 poin. Kalau yang sudah diberi insentif tidak masuk ya wayahna, kan ada format yang namanya sekolah swasta, karena sekolah negeri ini terbatas, karena terbatas makanya ada sistem seleksi,” terangnya.

Terkait program bina lingkungan, Emil sebenarnya hanya melanjutkan dari program sebelumnya, karena memang sudah ada perjanjian dari jauh-jauh hari perihal lingkungan TNI yang dipakai sekolah, dan itupun jumlahnya di bawah 3 persen.(inilahkoran.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.