Rektor UPI Dukung Program Internasionalisasi

oleh -6 views
Kampus UPI Bandung
Arrief Ramdhani
Kampus UPI Bandung
Kampus UPI Bandung

UNIVERSITAS Pendidikan Indonesia bersama Yonsei University, Korea akan menjalin kerjasama dalam berbagai bidang pendidikan seperti mengadakan seminar, penelitian,  pertukaran dosen dan mahasiswa, dan mengadakan pengabdian kepada masyarakat. hal tersebut terungkap saat dilakukan pertemuan antara kedua universitas, UPI dan Yonsei University di Auditorium FPIPS UPI, Senin (29/7/2013).

Kunjungan Yonsei University ke UPI adalah untuk membahas pentingya pembangunan antar bangsa sebagai warga Asia serta belajar karakter bangsa dan pengembangan wawasan tentang masalah pendidikan antar dua negara.

Menurut Rektor UPI, kegiatan yang bersifat internasionalisasi merupakan suatu program utama UPI dalam rangka pengembangan universitas, oleh karena itu, saya mendorong dosen dan mahasiswa  berpartisipasi dan berperan aktif dalam kegiatan  yang bersifat internasionalisasi.

“Saya mendorong kepada dosen ataupun mahasiswa dalam mengambil kesempatan baik di dalam negeri maupun di luar negeri untuk berpartisipasi dalam kegiatan internasionalisasi”, ungkap Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd.

Dikatakan Rektor UPI, dengan adanya penyelenggaraan kegiatan yang bersifat internasionalisasi maka UPI akan bisa membangun diri, akan bisa mengembangkan komunikasi internasional di dalam memainkan peran dan partisipasi dalam proses internasionalisasi.

“Prilaku semacam itu sudah menjadikan ciri dari kehidupan universitas. Oeh karena itu, kegiatan semacam ini harus dijadikan budaya diplomasi, karena dengan kegiatan semacam ini kita bisa membangun relasi, komunikasi dan tentu akan membuka diri bagi dunia internasional”, tambah Rektor UPI.

Ia menegaskan bahwa upaya seperti ini sangat penting bagi pendidikan bangsa ke depan, karena membangun karakter dan  kepribadian tidak mungkin dilakukan dalam kondisi hampa atau terisolasi, tetapi dalam membangun karakter dan kepribadian selalu ada dalam kontek budaya, dan budaya pun tidak akan terisolasi dari budaya lain.

“Disinilah pemahaman antar  budaya menjadi bahagian dari proses kehidupan manusia dari proses pendidikan dari proses membangun kedamaian.  Dan kedamaian adalah sebuah mainset dalam sebuah keragaman”, ujar Prof. Sunaryo.

“Kerangka fikir Itu semua harus dibagun sebagai esesnsi dari proses pembangunan, baik dalam membangun manusia Indoensia, membangun warga dunia sehingga keragaman menjadi indah ketika membangun kedamaian, tetapi tidak membangun kebencian yang akan merusak atau mencederai seni-seni kehidupan”, tambahnya.(berita.upi.edu)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.