Problem Based Learning (PBL),PECAHKAN MASALAH MATEMATIS BANGUN DATAR

oleh -8 views
USAID Prioritas
Arrief Ramdhani
USAID Prioritas
USAID Prioritas

RENDAHNYA daya serap matematika dan lemahnya kemampuan pemecahan masalah matematis sangat mungkin disebabkan oleh proses pembelajaran yang kurang efektif. Padahal, kemampuan pemecahan masalah matematis sangat penting bagi fondasi akademik anak. Maka, guru perlu segera menemukan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kemampuan siswa mengenai pemecahan masalah matematis.

Demikian guru MTs Negeri 2 Kota Bandung dan dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengawali presentasinya pada Konferensi Nasional Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Jakarta, Selasa (8/9). Penelitian berfokus pada bagaimana penerapan model problem based learning (PBL) yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VII-G MTs Negeri 2 Kota Bandung.

banner 728x90

“Skor rerata soal esai adalah 10 dari skor ideal 30. Model pembelajaran yang kami gunakan selama ini kurang membangun kemampuan pemecahan masalah matematis. Siswa terbiasa belajar dengan cara menghafal konsep dan kurang mampu menerapkan konsep tersebut jika menemukan situasi lain,” tutur Ida Weti, guru MTsN 2 Bandung, saat menjelaskan data awal kondisi kelas.

Menurut Iyon Maryono, dosen UIN Bandung, timnya mematok indikator keberhasilan PTK sebagai berikut:

  1. 80 % siswa mendapat skor  minimal 2  dari skor maksimal 3 dalam kemampuan mengidentifikasi masalah;
  2. 50 % siswa mendapat skor minimal 2 dari skor maksimal 3 dalam kemampuan merencanakan pemecahan masalah;
  3. 50 % siswa mendapat skor minimal  2 dari skor maksimal 4 dalam kemampuan menyelesaikan masalah;
  4. 50 % siswa mendapat nilai minimal 7 dari nilai maksimal 10 dalam tes kemampuan pemecahan masalah matematis.

“Pelaksanaan penelitian siklus satu meliputi orientasi siswa pada masalah matematika, mengorganisasi siswa untuk bekerja kelompok, membimbing siswa melakukan penyelidikan, dan memberikan kesempatan siswa menyajikan hasil karya,” jelas Aan Nurjanah, guru MTsN 2 Bandung.

Juariah, dosen UIN Bandung, menunjukkan data hasil tes kemampuan pemecahan masalah pada siklus satu berdasarkan indikator keberhasilan penelitian:

  1. Sebanyak 63% siswa pada tindakan 1, 71% siswa pada tindakan 2, dan 77% siswa pada tindakan 3 mendapat skor  minimal 2  dari skor maksimal 3 dalam kemampuan mengidentifikasi masalah;
  2. Sebanyak 69% siswa pada tindakan 1, 26% siswa pada tindakan 2, dan 49% siswa pada tindakan 3 mendapat skor minimal 2 dari skor maksimal 3 dalam kemampuan merencanakan pemecahan masalah;
  3. Sebanyak 74% siswa pada tindakan 1, 26% siswa pada tindakan 2, dan 34% siswa pada tindakan 3 mendapat skor minimal  2 dari skor maksimal 4 dalam kemampuan menyelesaikan masalah;
  4. Sebanyak 66% siswa siswa pada tindakan 1, 20% siswa pada tindakan 2, dan 46% siswa pada tindakan 3 mendapat nilai minimal 7 dari nilai maksimal 10 dalam tes kemampuan pemecahan masalah matematis.

Dampak tindakan siklus satu menunjukkan total 75% siswa mampu memahami masalah, 47% mampu merencanakan penyelesaian masalah, 33% dapat menyelesaikan masalah, dan 44% mencapai skor maksimal 7. “Maka, penelitian siklus satu belum berhasil dan diperlukan siklus berikutnya,” ujar Iyon.

Tim lalu melakukan alur siklus dua, yang berlangsung seperti siklus satu, dengan sejumlah perbaikan. “Perbaikan dilakukan dengan penekanan proses pemecahan masalah, motivasi guru pada siswa lebih intens, anggota kelompok diperkecil menjadi empat orang, proses pengerjaan LKS lebih terbimbing, dan penyajian hasil diskusi lebih detail,” papar Ida.

Usai siklus dua, dampak proses menunjukkan total 97% siswa mampu memahami masalah, 92% mampu merencanakan penyelesaian masalah, 67% dapat menyelesaikan masalah, dan 64% mencapai skor maksimal 7. “Dengan demikian, target indikator keberhasilan penelitian telah tercapai,” ucap Juariah.

Aan Nurjanah kemudian menyebut sejumlah pelajaran yang dapat dipetik mengenai pengembangan instrument PTK dan implementasinya. Pertama, semua instrumen yang digunakan benar-benar menentukan keberlangsungan PTK. Kedua, lembar Kerja yang dikembangkan  benar-benar membantu mempermudah guru dalam pembelajaran, membuat siswa lebih aktif, dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Ketiga, lembar observasi yang dikembangkan untuk PTK harus dapat merekam tahapan-tahapan  model PBL. “Terakhir,” kata Aan, “tingkat kesukaran tes pemecahan masalah diusahakan harus relatif sama, sehingga kita dapat menafsirkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa.”

Program USAID Prioritizing Reform, Innovation, Opportunities for Reaching Indonesia’s Teacher, Administrators, and Students (USAID PRIORITAS) adalah program lima tahun yang didanai oleh United States Agency for International Development (USAID) dan didesain untuk meningkatkan akses pendidikan dasar yang berkualitas. USAID PRIORITAS adalah bagian dari program kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat. Program ini telah diterapkan di sembilan provinsi (Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Papua, dan Papua Barat). [DS/USAID Prioritas]