Praktik Minta Jatah Kursi Hantui Penerimaan Murid Baru

oleh -1 views
Ilustrasi PPDB
Arrief Ramdhani
Ilustrasi PPDB
Ilustrasi PPDB

MENJELANG musim penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA/sederajat, masih ditemui praktik meminta jatah kursi dari oknum tertentu melalui kepala sekolah. Praktik kotor yang diikuti iming-iming uang sogokan ini bisa memangkas hak siswa berprestasi untuk dapat diterima terutama di sekolah-sekolah negeri favorit.  

“Praktek titip-menitip siswa sering terjadi saat PPDB,” ungkap Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Tasikmalaya (Jawa Barat), Khaerulkin, Kamis (19/6).

Jumlah siswa yang dititipkan oleh oknum, menurut dia, bisa lebih dari satu orang. Bahkan ada yang lebih dari lima siswa.

“Praktek curang itu terjadi di sekolah-sekolah favorit. Mereka (yang dititpkan) mayoritas dari kalangan berduit, yang ingin anaknya bisa sekolah favorit tanpa ikut seleksi. Kalau pun ada seleksi itu hanya formalitas belaka,” kata Khaerulkin.

Karena itu MKKS mengimbau agar kepala sekolah jangan takut untuk menolak keinginan oknum. “Walaupun ada intervensi atau tekanan dari oknum tersebut, kepala sekolah harus berani menolak, demi kemajuan dunia pendidikan kita,” ujar Khaerukin.

Di samping itu, lanjut dia, agar tidak ada orang tua maupun siswa yang merasa dirugikan, sehingga kepercayaan terhadap sekolah tidak hilang. “Bagi masyarakat yang mengetahui adanya praktek tersebutsegera lapor ke pihak yang berwenang,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Edy Sumardi, membenarkan adanya praktik kotor itu. Pihanya pun mempersiapkan sanksi khusus terhadap oknum yang terlibat kecurangan.

“Titip-menitip siswa jelas dilarang keras, sebab melanggar pedoman PPDB tahun ajaran 2014/2015. Dibuatnya pedoman itu agar tidak terjadi tindakan curang, seperti menitip siswa,” kata Edy.

Demi menjaga mutu pendidikan, Edy meminta seluruh kepala sekolah berlaku jujur dalam menerima siswa baru. “Setiap elemen harus bersinergi, menjaga kualitas pendidikan, termasuk wali murid,” harap Edy, saat ditemui di ruangannya.

Romlah Nurhayati, salah satu wali murid yang hendak mengikuti PPDB, mengaku di benaknya tak sedikit pun ingin berbuat curang. Kendati menginginkan anaknya mengenyam pendidikan di sekolah ternama, namun tidak mau memaksakan kehendak.

“Walaupun secara finansial saya mampu, tapi kalau anak saya tidak ammpu ntuk mengikuti pendidikan di sekolah favorit, kenapa mesti dipaksain,” tutur ibu empat anak itu.(republika.co.id)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.