Potensi Zakat di Indonesia Mencapai Rp217 triliun

oleh -0 views
Ilustrasi

Ketua MUI KH. M.Cholil Nafis mengatakan, Indonesia merupakan negara paling dermawan di dunia. Indonesia berada pada peringkat pertama dalam CAF World Giving Index (WGI) 2021 dengan skor 69. Skor ini naik dari 59 saat terakhir kali Indeks WGI tahunan yang diterbitkan pada 2018. Saat itu juga Indonesia menempati peringkat pertama.

“Tingkat sukarelawan di Indonesia lebih dari tiga kali rata-rata global. Perolehan tingkat pertama ini salah satunya disebabkan karena adanya peran zakat yang meningkat selama pandemi Covid-19 seiring peningkatan penghimpunan zakat secara global pada tahun 2020. Zakat dan wakaf juga berperan besar dalam membangun peradaban,” ujarnya saat berbicara dalam Webinar Nasional Festival Literasi Zakat Wakaf 2021, di Jakarta, Selasa (14/9/2021).

Ia menerangkan, ada lima modal dalam pengembangan investasi zakat dan wakaf, yaitu: trust, legalitas, human skill, human technical, dan human relation.

“Adanya zakat dapat menjadi salah satu alat distribusi pendapatan, juga berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan umat, pemberdayaan masyarakat, serta mengubah mustahiq menjadi muzakki. Indonesia memiliki potensi zakat hingga Rp217 triliun dan berdasarkan data Baznas tahun 2019 potensi zakat baru terhimpun 9 triliun,” tuturnya.

Staf Khusus Menteri Agama, Abdul Rochman, menambahkan, pemerintah telah mendorong penguatan tata kelola zakat-wakaf di berbagai aspek. Regulasi, infrastruktur, dan pembinaan secara simultan, disempurnakan setiap waktu. Pemerintah terus membangun infrastruktur dan SDM zakat-wakaf, agar keduanya tumbuh dan berkembang secara maksimal.

“Dengan spirit Islam rahmatan lil ’alamin, kita ingin zakat-wakaf menjadi pilar penting pembangunan yang berkeadilan sosial. Zakat-wakaf didorong untuk mengambil peran dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi kaum lemah, melindungi hak-hak dasar masyarakat, yang mencakup hak-hak sipil dan politik, hak-hak ekonomi dan sosial budaya,” tandas Abdul Rochman.

Di sisi lain, jelas Abdul Rochman, isu pembangunan sosial juga terus dikembangkan. Zakat-wakaf perlu terus didorong lebih aktif mendukung dan melaksanakan pembangunan sosial yang tidak hanya berorientasi pelayanan amal, tetapi secara lebih luas menangani masalah kemiskinan, perburuhan, lingkungan, gender, HAM, demokratisasi, ketunaan sosial, narkoba, dan HIV/AIDS.

“Inilah salah satu bentuk komitmen kita terhadap isu-isu kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan semua pihak,” kata Abdul Rochman.