Perjuangan Sopan Ajari Siswa Kelas 4 SD Baca Tulis

oleh -16 views
Ilustrasi guru SM-3T (kemdikbud.go.id)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi guru SM-3T (kemdikbud.go.id)
Ilustrasi guru SM-3T (kemdikbud.go.id)

PELAJAR kelas empat SD harusnya sudah lancar membaca dan menulis. Namun kenyataan berbeda justru dihadapi oleh peserta Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sopan Fitriani.
Ditempatkan di SDN 2 Terangun, Gayo Lues, Nanggroe Aceh Darusalam, Sopan tercengang mendapati lima siswanya belum lancar membaca dan menulis. Tugas itu terasa berat bagi Sopan mengingat para siswanya belum pernah belajar membaca dan menulis sebelumnya.

“Mereka adalah Adi, Nasir, Aliyah, Iskandar, dan Kawi. Iskandar dan Kawi adalah siswa kelas empat SDN 4 Terangun yang sama sekali tidak bisa membaca dan tulisannya pun belum bisa dibaca. Sepertinya mereka tidak pernah berlatih membaca dan menulis di rumah,” ungkap Sopan, seperti dikutip dari situs UNY, Sabtu (4/10/2014).

Tidak tinggal diam, selama sekira satu bulan, Sopan pun menerapkan model pembelajaran inklusi di kelas empat khusus bagi siswa yang duduk di bangku paling depan, tidak terkecuali Iskandar dan Kawi. Sementara siswa lain mengerjakan tugas diberikan Sopan, Iskandar dan Kawi satu per satu diminta datang ke meja guru untuk belajar membaca.

“Setelah tiga bulan banyak kemajuan pada mereka berdua. Sementara Aliyah dan Adi, siswa yang mengeja dan tulisannya belum jelas, bisa dibilang agak lancar membaca, dan tulisannya pun semakin jelas terbaca meskipun untuk standar kelas empat masih jauh dari yang seharusnya,” tuturnya.

Namun, Sopan merasa metode inklusi belum membuahkan hasil yang maksimal karena akan mempengaruhi pembelajaran pada 23 siswa lain di dalam kelas. Solusinya, Sopan memberikan bimbingan membaca dan menulis, yaitu pada saat pagi hari sebelum masuk sekolah dan istirahat.

“Kadang meskipun pada pulang sekolah dilarang ada tambahan, saya cari waktu untuk menemani mereka belajar membaca dan menulis. Setelah enam bulan, mereka berlima sudah mengalami perkembangan pesat dalam bidang membaca dan menulis. Mereka sudah siap bersaing dengan kedua puluh tiga siswa yang lain untuk meraih prestasi,” kata Sopan.

Alumni jurusan PJKR FIK UNY itu mengaku sempat tertekan ketika pertama kali diberikan tanggung jawab untuk menjadi wali kelas. Sebab para siswanya masih kesulitan dalam mengeja serta hanya mengetahui pengurangan dan penjumlahan saja.

“Bagaimana mungkin siswa kelas empat SD menulis pun ada yang belum bisa terbaca bahkan ada yang sama sekali tidak bisa menulis? Bahkan karena wali kelas tiga jarang masuk dan wali kelas lain yang kadang tidak masuk, saya juga harus bertindak sebagai guru yang mengisi kekosongan pelajaran,” urainya.

Selain mengurus muridnya yang belum lancar baca-tulis, warga Sepatan, Mangunharjo, Arjosari, Pacitan itu juga menyempatkan untuk berinovasi dalam memperkenalkan ilmu pengetahuan pada muridnya. Seperti dalam mengenalkan bagian tumbuhan. Sopan meminta para siswanya mengambil bunga sepatu yang ada di depan sekolah.

“Sesampainya di kelas, saya minta para siswa membaca buku yang berisi materi bagian-bagian bunga. Dengan metode ini para siswa menjadi mudah memahami materi,” papar Sopan.

Seakan tak lelah berinovasi, Sopan pun terus mencari metode pembelajaran efektif untuk meningkatkan kemampuan para siswa. Baik di dalam maupun luar kelas hingga diskusi kelompok.

Hasil yang diperoleh pun tidak mengecewakan, malah terbilang membanggakan. Nilai rata-rata mereka naik dan mereka menjadi lebih aktif belajar.

“Saya hanya berharap apa yang disampaikan dengan metode ini bisa bermanfaat bagi mereka,” imbuhnya.(kampus.okezone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.