Penyusunan Kurikulum Sejarah Tak Libatkan Sejarawan

oleh -5 views
Ilustrasi (bukubsebengkulu.blogspot.com)
Arrief Ramdhani

 

Ilustrasi (bukubsebengkulu.blogspot.com)
Ilustrasi (bukubsebengkulu.blogspot.com)

 

ILMU sejarah masih menjadi mata pelajaran yang tidak difavoritkan para pelajar. Di antara penyebabnya, metode pembelajaran yang tidak menarik dan melulu diisi hafalan. Di sisi lain, penyusunan kurikulum mata pelajaran sejarah pendidikan dasar dan menengah ditengarai tidak melibatkan sejarawan.

“Karena kurikulum itu praktis tidak menggunakan sejarawan, maka ada sejumlah materi yang dinilai keliru dalam mata pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah,” ujar Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Susanto Zuhdi, seperti dilansir Antara, Kamis (26/5/2016).

Susanto yang juga mendalami sejarah bahari Indonesia tersebut mencontohkan, salah satu materi yang dianggapnya keliru dalam pelajaran sejarah ialah mengenai masa penjajahan Belanda di Nusantara selama 350 tahun. Menurut dia, Negara Kincir Angin tidak menjajah Nusantara selama itu mengingat perlawanan-perlawanan yang diberikan oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara kala itu.

“Jadi kenapa masih mengajari 350 tahun dijajah Belanda? Itu kan karena pengetahuan yang lemah secara ilmu metodologi sejarah. Karena bagaimana mau dikatakan Belanda menguasai 100 persen Sabang sampai Merauke kalau perlawanan-perlawanan sesudah (kerajaan) Aceh pun masih muncul. Pasti tidak benar,” tegas Susanto.

Dia mengingatka agar dalam memberikan pelajaran sejarah, guru juga harus memberikan hal-hal yang bersifat kritis agar timbul keingintahuan dari siswa mengenai hal-hal yang menjadi sebab akibat dari peristiwa sejarah tersebut.

Sejarawan dari Masyarakat Sejarawan Indonesia Anhar Gonggong mengatakan Indonesia harus bisa mengakui kesalahannya karena sempat “mengabaikan” sejarah dengan tidak memberikan porsi yang pas mata pelajaran sejarah di sekolah.

Dia menjelaskan, mata pelajaran sejarah yang diberikan sangat sedikit bahkan hampir hilang di kurikulum pendidikan pascareformasi. Namun dia menyambut baik rancangan Kurikulum 2013 yang berusaha mengembalikan sejarah pada pendidikan di Indonesia.

“Yang selalu saya katakan, Anda tidak akan pernah memahami diri Anda sebagai bangsa kalau Anda tidak mempunyai pemahaman tentang sejarah. Karena Indonesia dibentuk dalam suatu proses sejarah,” ujar Anhar.(news.okezone.com)