Penyediaan Lahan Jadi Kendala Pembangunan Sekolah di KBB

Wednesday 25 September 2019 , 8:43 AM

Ilustrasi

PEMBANGUNAN unit sekolah baru untuk tingkat SMP di Kabupaten Bandung Barat masih terkendala penyediaan lahan. Hal ini membuat pemerintah daerah tidak bisa menerima bantuan dari pusat untuk membangun sekolah tersebut.

Kepala Bidang SMP pada Dinas Pendidikan KBB Dadang Saparadan mengungkapkan, pembangunan SMP terakhir dilakukan pada 2015 lalu dengan anggaran Dana Alokasi Khusus dari pemerintah pusat. Tahun 2016 akhir, memang ada pembangunan SMP di Lembang, tetapi dengan dana pendamping DAK.

“Pemerintah pusat hanya memberikan bantuan untuk pembangunan, sedangkan untuk lahannya, harus disediakan oleh pemerintah daerah. Dan, ini memang masih jadi kendala,” ujarnya, Selasa, 24 September 2019.

Menurut Dadang, slot dari kementerian untuk pembangunan sekolah sebetulnya bisa sampai 3 hingga 5 unit, asalkan lahannya tersedia. Sesuai dengan aturan, minimal harus tersedia lahan seluas 6.000 meter persegi untuk satu sekolah. Lahan seluas itu bisa untuk 6 ruang kelas dan 1 bangunan masjid.

Dia menyebutkan, saat ini jumlah SMP di KBB baik negeri maupun swasta, yaitu 184 unit dengan jumlah siswa sekitar 62.000 orang. Dia juga memastikan, keberadaan sekolah saat ini masih bisa menampung kebutuhan bagi lulusan SD.

“Jadi untuk pembangunan SMP sebetulnya tidak bisa dibilang urgent juga, karena sekolah negeri terbilang banyak, apalagi terbantu dengan hadirnya sekolah swasta,” katanya.

Minat tinggi

Namun, dirinya tak menampik bahwa minat siswa untuk memilih sekolah negeri cukup tinggi. Itu bisa terlihat di wilayah perkotaan seperti Padalarang dan Ngamprah. Sementara itu, di kedua wilayah perkotaan tersebut baru ada masing-masing 3 SMP negeri.

“Untuk mengimbanginya, kami juga akan mengundang kepala SMP swasta yang masih belum banyak peminatnya untuk bisa meningkatkan kuaitas pelayanan pendidikan bagi para siswanya,” ujar Dadang.

Sementara itu, Kepala Desa GUdangkahuripan Agus Karyana mengungkapkan, kehadiran bangunan SMP baru di desanya sangat membantu para lulusan SD di desanya untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Dia mengungkapkan, kehadiran gedung SMP 6 Lembang di desanya itu juga membantu masyarakat di desa-desa sekitarnya.

Pembangunan SMP pada akhir 2016 tersebut, menurut Agus, telah melalui serangkaian proses panjang lantaran sempat dipertentangkan salah satu komite SD. Alasannya, pembagunan SMP tersebut bakal mengambil sebagian lahan SD tersebut. Namun setelah dikonfirmasi, pembangunan SMP berada di atas lahan desa. Akhirnya, semua pihak menyetujui pembangunan SMP tersebut.

“Sekarang, warga di desa kami bisa menyekolahkan anaknya ke SMP di desa ini. Sebelumnya, SMP negeri lokasinya cukup jauh, sehingga ini menghambat juga bagi tingkat melanjutkan siswa SD ke SMP,” katanya.(pikiran-rakyat.com)

Comments are closed.