Pendidikan Vokasi Upaya Kemandirian Bangsa

oleh -1 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

BIDANG teknologi dan sains masih menjadi primadona di kalangan pelajar yang ingin melanjutkan kuliah. Sebagian besar lebih memilih mendalaminya melalui program sarjana. Alhasil, pendidikan vokasi hanya menjadi pilihan kedua atau alternatif.

Padahal, Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir Hotma Prawoto Sulistyadi mengatakan, karakter pendidikan vokasi sesungguhnya menjadi solusi untuk menjaga kedaulatan dan kemandirian bangsa. Hal inilah yang perlu ditanamkan dalam mindsetmahasiswa.

“Vokasional adalah jawaban atas kedaulatan bangsa. Kalau kita hanya mengembangkan sains itu akan memperbesar ketergantungan kita pada negara-negara maju. Tapi dengan vokasional ini kita bisa melakukan mulai dari hal-hal yang paling sederhana,” tuturnya dinukil dari laman UGM, Sabtu (8/10/2016).

Guna lebih mengenal pendidikan vokasi, International Symposium on Technology for Sustainability (ISTS) 2016 menjadi ajang untuk menyinergiskan mahasiswa vokasi dari berbagai negara.

“Sebenarnya ini hanya latihan, tapi bagi mahasiswa ini bagaimana mereka memiliki pemahaman dalam menyelesaikan masalah yang menjadi interest-nya. Nah, ini memang sangat vokasional sekali. Mungkin nanti manfaatnya tidak hanya di sini, tapi juga di tempat lain,” ucapnya.

Hotman menjelaskan, acara tersebut merupakan kerja sama Sekolah Vokasi UGM dengan National Institute of Technology (NIT) Jepang. Hingga 12 Oktober, para mahasiswa dapat mencari solusi nyata terhadap pemecahan permasalahan di masyarakat lokal dengan menggunakan pendekatan teknologi.

“Acara ini kaitannya dengan menggali ide dan menumbuhkan jiwa leadership supaya mereka dapat berkembang secara global,” imbuh Ketua ISTS 2016, Fitri Damayanti Berutu.

Rangkaian ISTS 2016 sendiri diikuti oleh 24 peserta dari tujuh negara. Kegiatan terdiri atas simposium, workshop, seminar, cultural night, kunjungan industri, serta studi kasus di Desa Poncosari. Sedangkan Presiden NIT, Taniguchi Izao, PhD mengungkapkan, ajang tersebut menjadi wadah berkumpul anak muda dari berbagai negara untuk mempersiapkan masa depan.

“Melalui kegiatan ini siswa-siswa muda dari berbagai negara bisa berkumpul, ini adalah hal yang sangat penting. Budaya dan latar belakang mereka memang berbeda, tapi mereka bisa saling berdiskusi dan mendapat wawasan serta ide-ide baru,” tandas Taniguchi.(news.okezone.com)