Pendidikan Kewarganegaraan Mengerem Bibit Konflik

oleh -0 views
Ilustrasi (sman2purworejo.sch.id)
Arrief Ramdhani
Ilustrasi (sman2purworejo.sch.id)
Ilustrasi (sman2purworejo.sch.id)

PEMBELAJARAN pendidikan kewarganegaraan berbasis multikulturalisme bagi siswa sekolah menengah atas/madrasah aliyah (SMA/MA) menjadi jembatan untuk mengerem bibit konflik.

Dr Baidi, M.Pd menyatakan dimensi multukulturalisme bisa diaksentuasikan dalam bentuk pemahaman agama-agama, tempat ibadah, budaya yang beragam. Pemahaman atas keyakinan yang berbeda tersebut mengantarkan anak mengerti dan menerima perbedaan nilai-nilai budaya dan ajaran agama yang berbeda dengan keyakinan diri maupun lingkungannya.

Benang merah pemikiran tentang nilai multikulturalisme dalam pendidikan kewarganegaraan dari sudut pandang psikologi pendidikan diperoleh melalui penelitian di SMP Al-Islam 1 Surakarta. Elemen penelitian yang ditekankan untuk mengetahui dampak sosialisasi nilai multikulturalisme melalui pendekatan lapangan dengan kunjungan ke tempat ibadah lain agama dan diskusi kelompok di kelas. Dengan perpaduan pendekatan tersebut, hasil penelitian Baidi menunjukkan anak didi bisa lebih memahami bahwa manusia hidup itu penuh perbedaan keyakinan dan agama, kemudian perbedaan tersebut bisa diterima secara alamiah, tanpa melalui proses konflik.

Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi Drs. Baidi, M.Pd untuk melakukan penelitian mengenai “Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Berbasis Multikulturalisme Perspektif Psikologi Sosial Islam”.

Menurutnya, melalui Pendidikan Kewarganegaraan berbasis multikultural tersebut, peserta didik akan diajarkan dan diberikan pemahaman bahwa kondisi kehidupan manusia itu sangat beragam, baik itu dari segi agama, budaya, pengalaman, maupun pemikirannya.

“Berawal dari pemberian pembelajaran PKn berbasis multikultural kepada peserta didik itulah, diharapkan kehidupan masyarakat ke depannya bisa lebih saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada, tanpa dillalui terlebih dulu konflik sebagai cara menyikapi perbedaan,” kata dia dalam promosi doktordi , Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Dari penelitian promovendus di SMP Al-Islam Surakarta dibandingkan dengan lembaga pendidikan setingkat lainnya, nilai-nilai multikulturalisme belum mendapat perhatian intensif dan serius dalam pendidikan kewarganegaraan bagi siswa sekolah.

Menurut dia pendiudikan kewarganegaraan yang ideal harus mencakup integrasi fungsi yaitu pembenihan sikap solidaritas atas perbedaan dan menanam bibit keterampilan kepemimpinan. Dengan kata lain, pendidikan kewarganegaraan yang ideal harus mencakup aspek pengetahuan dan sikap (civic knowledge dan civic disposition), serta aspek keahlian kepemimpinan atau civic skill. “Aspek civic skill belum banyak disentuh,” kata doktor ke-16 dari universitas tersebut, Minggu (13/7/2014).

Mengomentari penelitian tersebut, Prof. Dr. H. Asmadi Alsa, SU menyatakan pendidikan kewarganegaraan di tengah perubahan masyarakat menjadi muatan nilai yang strategis jika pendidikan ini menekankan pengetahuan sekaligus keahlian dalam kepemimpian atau perilaku bermasyarakat seperti menyikapi perbedaan dan keragaman budaya dan agama.(pikiran-rakyat.com)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.