Pemberantasan Buta Aksara Terkendala Faktor Geografis

oleh -21 views
Ilustrasi
Arrief Ramdhani
Ilustrasi
Ilustrasi

DIREKTUR  Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Harris Iskandar mengatakan, faktor geografis menjadi salah satu kendala pemberantasan status buta huruf di Indonesia.  Menurutnya, masih ada 5,9 juta warga Indonesia berstatus buta huruf.
Jumlah ini diklaim turun drastis jika dibandingkan dengan jumlah total warga buta huruf pada 2005 yang mencapai 14,89 juta orang.

“Meski sudah menurun, kami tetap mentargetkan tidak ada lagi warga Indonesia buta huruf pada 2030. Meski demikian, ada beberapa kendala untuk mencapai target itu. Salah satunya karena lokasi bermukim warga buta huruf yang semakin terpencar,” jelas Harris di Jakarta , Jumat (9/9).

Harris menggambarkan, mayoritas warga buta huruf bermukim di wilayah pedesaan. Di suatu desa, saat ini hanya tersisa satu hingga dua warga buta huruf.

Dalam suatu kabupaten atau daerah, tidak bisa dipastikan seluruh desa memiliki warga buta huruf. Karena itu, program pengentasan buta huruf terlebih dulu harus menyisir lokasi bermukim warga. Padahal, tutur Harris, tidak sedikit dari mereka yang tinggal di desa terpencil atau wilayah yang sulit terjangkau.

Kendala kedua yang juga signifikan menghambat pemberantasan buta huruf adalah motivasi warga. Sebab, berdasarkan data Kemendikbud, mayoritas warga buta huruf berusia di atas 45 tahun.

“Ada faktor psikologis yang berpengaruh untuk kembali belajar pada usia tersebut, yakni semangat yang kurang. Motivasi hidup mereka berbeda dengan anak muda yang masih rajin mengejar prestasi. Karenanya, kami menempuh beberapa pendekatan untuk membantu mereka belajar membaca,” ungkap Harris.

Saat ini, program pengentasan buta huruf di daerah dibantu oleh pengajar PAUD. Menurut Harris, jumlah pengajar PAUD masih cukup untuk membina seluruh warga buta huruf yang masih ada.

Pendekatan pembelajaran yang digunakan berupa program vokasi (pemberian keterampilan) sambil belajar membaca. Selain itu , warga pun juga ada yang diajak belajar membaca melalui kegiatan pengajian. “Karena orientasi mereka kan sudah banyak ke kehidupan setelah saat ini. Kelompok pengajian terbukti efektif mengajak warga belajar membaca,” tambah Harris.

Berdasarkan data Kemendikbud, ada lima provinsi dengan jumlah warga buta huruf tertinggi. Kelimanya adalah Jawa Timur (1,4 juta orang), Jawa Tengah (943.683 orang), Jawa Barat (604.378 orang), Papua (584.441 orang) dan Sulawesi Selatan (37.221 orang). Mayoritas warga buta huruf adalah perempuan. (republika.co.id